Kamis 19 Oct 2023 15:42 WIB

Kondisi 2023 Menantang, BTPN Syariah Raih Laba Rp 1 Triliun di Kuartal III

Pembiayaan BTPS mencapai Rp 11,9 triliun, naik dari Rp 11,3 triliun di Q3 2022.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Fuji Pratiwi
BTPN Syariah telah mencatatkan serangkaian inovasi untuk mewujudkan aspirasi membangun ekositem digital syariah khusus untuk segmen pra dan cukup sejahtera.
Foto: BTPN Syariah
BTPN Syariah telah mencatatkan serangkaian inovasi untuk mewujudkan aspirasi membangun ekositem digital syariah khusus untuk segmen pra dan cukup sejahtera.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) membukukan kinerja positif pada kuartal III 2023 dengan mencetak laba bersih mencapai Rp 1 triliun.

BTPS terus berupaya melakukan berbagai upaya untuk menjaga kinerja tetap sehat di tengah kondisi pascapandemi Covid-19 yang masih menantang. "Meski kondisi masih cukup menantang, kami berkomitmen untuk menjadi bank yang sehat," kata Direktur Keuangan BTPN Syariah Fachmy Achmad dalam keterangannya, Kamis (19/10/2023).

Baca Juga

Dari sisi pembiayaan, pada kuartal III tahun ini BTPS tercatat mampu mencetak pertumbuhan. Penyaluran pembiayaan kepada masyarakat inklusi pada kuartal III ini mencapai Rp 11,9 triliun, naik dari Rp 11,3 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Kinerja perusahaan yang tetap sehat juga tecermin dari sejumlah rasio penting. BTPN Syariah mencatatkan rasio-rasio yang sehat dengan return of asset (RoA) 7,8 persen serta rasio kecukupan modal (CAR) pada 49,7 persen atau di atas ketentuan dan rata-rata industri bank syariah. 

BTPN Syariah di kuartal III 2023 tetap menggulirkan berbagai program demi memperkuat kapasitas masyarakat inklusi. Inilah komitmen tinggi BTPN Syariah terhadap pelaku usaha ultra mikro Indonesia.

Berbagai program apresiasi berkelanjutan dilakukan untuk membangun kembali empat perilaku unggul nasabah, yakni BDKS (Berani Berusaha, Disiplin, Kerja Keras, dan Saling Bantu) semua ini menjadi kunci sukses berjalannya model bisnis pembiayaan Bank. 

Salah satu yang dilakukan yakni memberikan insentif bagi anggota sentra yang memiliki tingkat kehadiran 90 persen di kumpulan atau Pertemuan Rutin Sentra (PRS) setiap dua minggu sekali dan membayar angsuran tepat waktu.

Di samping itu, bank juga melibatkan lebih banyak pihak dalam program pendampingan. Hal ini sebagai wujud komitmen manajemen dalam memperluas akses pengetahuan bagi masyarakat inklusi. 

Tercatat, lebih dari 1.600 mahasiswa dari 258 universitas di 20 provinsi di Indonesia terlibat menjadi fasilitator dalam program Bestee Tepat (Bersama Berdaya Sahabat Tepat Indonesia). "Nantinya, bank juga akan bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan dalam program pendampingan masyarakat inklusi yang terukur dan berkelanjutan," kata Fachmy.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement