Kamis 28 Dec 2023 22:34 WIB

Dana Kelolaan Pesantren BSI Sudah Capai Angka Rp 1 Triliun

Jumlah pesantren yang masuk Islamic Ecosystem BSI tumbuh 339 persen

Petugas melayani nasabah di Kantor Cabang BSI KC Mayestik, Jakarta, Kamis (28/12/2023). PT Bank Syariah Indonesia Indonesia Tbk (BSI) telah menyiapkan uang tunai sebesar Rp12,2 triliun untuk melayani kebutuhan transaksi nasabah dimana langkah itu sebagai bagian dari komitmen BSI guna memberikan pelayanan yang optimal dan memastikan ketersediaan likuiditas selama periode 22 Desember 2023 hingga 3 Januari 2024. 
Foto: Dok Republika
Petugas melayani nasabah di Kantor Cabang BSI KC Mayestik, Jakarta, Kamis (28/12/2023). PT Bank Syariah Indonesia Indonesia Tbk (BSI) telah menyiapkan uang tunai sebesar Rp12,2 triliun untuk melayani kebutuhan transaksi nasabah dimana langkah itu sebagai bagian dari komitmen BSI guna memberikan pelayanan yang optimal dan memastikan ketersediaan likuiditas selama periode 22 Desember 2023 hingga 3 Januari 2024. 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Syariah Indonesia terus mendorong dana kelolaan di pesantren. Per November 2023, dana kelola pesantren di BSI sudah mencapai angka Rp 1 triliun lebih, atau meningkat 28,59 persen secara year to date (YtD). 

"Jumlah pesantren yang sudah masuk ke dalam Islamic Ecosystem BSI mencapai 49.383 atau tumbuh 339 persen secara YtD," kata Direktur Sales & Distribution BSI, Anton Sukarna dalam keterangan, Kamis (28/12/2023).

Terbaru, BSI bekerja sama dengan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengembangkan aplikasi Al- Munawwir, kamus digital Bahasa Arab-Indonesia. Langkah ini untuk mengakselerasi digitalisasi di lingkungan pondok pesantren agar lebih modern dan berdaya saing.

RMI PBNU merupakan salah satu lembaga di bawah PBNU dengan basis pesantren yang jumlahnya kurang lebih sebanyak 23 ribu pesantren di seluruh Indonesia.   Anton mengatakan kerja sama antara BSI dan PBNU ini merupakan kolaborasi berkelanjutan untuk mendorong pondok pesantren dan santri yang adaptif dan agile di era digital. 

Karena itu, BSI menilai peningkatan literasi melalui aplikasi kamus digital ini menjadi salah satu hal yang penting untuk kemajuan pondok pesantren ke depannya.

“BSI terus berupaya meningkatkan literasi digital untuk pondok pesantren dan para santri agar lebih modern dan memiliki daya saing. Peluncuran kamus digital Al-Munawwir ini merupakan langkah awal untuk menghasilkan santri-santri yang melek digital dan berwawasan luas,” kata Anton.

Dalam aplikasi Al-Munawwir sendiri terdapat beberapa fitur yang dapat membantu dan mempermudah para santri. Seperti pencarian cerdas untuk bahasa Arab tanpa memerlukan harokat pada kata yang diinput dan dapat dengan berbagai bentuk bahasa. 

Aplikasi ini juga dapat menunjukkan akar kata (Fi'il Madhi) untuk semua kata masukan dan tampilan agregasi, dari semua akar Bahasa Arab dalam kamus Al-Munawwir. Lalu ada pula analisis kata Bahasa Arab dengan yang memberikan gambaran tentang pengelompokan kata, dari satu akar kata Bahasa Arab.

Yang juga tak kalah menarik, terdapat pencarian kata yang dapat mengidentifikasi berapa kali kata tersebut dengan turunan katanya disebutkan dalam Al Quran. Fitur-fitur diharapkan akan merevolusi cara belajar mengajar di Pondok Pesantren menjadi lebih cepat dan simpel.

Anton melanjutkan, selain kerja sama pengembangan aplikasi ini, BSI sendiri terus berupaya mendukung layanan keuangan syariah dalam berbagai aset kelolaan PBNU. Seperti diketahui, sebagai organisasi PBNU memiliki dan mengelola pondok pesantren, sekolah, perguruan tinggi, dan rumah sakit. 

“Beberapa poin kerja sama antara BSI dan PBNU ialah dalam pelayanan cash management yang mencakup solusi pengelolaan likuiditas, solusi penerimaan atau tagihan, solusi pembayaran atau pengeluaran, dan solusi digitalisasi transaksi termasuk layanan virtual account,” ujar Anton.

Pemanfaatan produk-produk dana dan pembiayaan juga diberikan dalam rangka pengembangan usaha PBNU. Seperti di bidang kesehatan, pendidikan, maupun UMKM. BSI dan PBNU akan bekerja sama dalam pelatihan, workshop pengembangan ekonomi berbasis syariah, pengembangan masjid, dan kegiatan sosial lainnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement