Sabtu 23 Mar 2024 23:50 WIB

Pengusaha Madu Ungkap Standar Baku Hambat Ekspor

Padahal, permintaan madu di dunia cukup luas.

Pelaku UMKM memperlihatkan madu hutan yang dijajakan (ilustrasi).
Foto: ANTARA/Irwansyah Putra
Pelaku UMKM memperlihatkan madu hutan yang dijajakan (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, KOTA BOGOR -- Wirausahawan peternak madu, Eureka Indra Zatnika dalam kegiatan Pesantren Kilat (Sanlat) Ramadhan 1445 Hijriah/2024 Masehi mengupas problematika sulitnya produksi madu Indonesia untuk ekspor ke luar negeri.

"Ekspor madu dari Indonesia masih cukup rumit, karena belum ada satuan yang bisa menjadi standar baku kualitas madu," kata pemilik usaha "Madu Pak Lebah" itu ketika menjadi pembicara dalam Sanlat Ramadhan 2024 di Gedung DPRD Kota Bogor, Jawa Barat, Sabtu (23/3/2024).

Baca Juga

Padahal, menurut Eureka, permintaan madu di dunia cukup luas. Bahkan bisnis madu terbuka lebar dan memiliki prospek hingga saat ini.

"Kendalanya di Indonesia proses menuju ekspornya cukup rumit dan parameter ekspor kadang agak membingungkan. Belum ada satuan yang bisa standar baku, yang bisa meloloskan produk kita," kata dia.

 

Dari pandangannya, standar baku kualitas madu selalu muncul dari para pembeli, bukan dari para penjual. Namun, di Indonesia belum ada standar baku tersebut.

"Pembeli biasanya suka mengeluarkan standar dari ragam bentuk. Sehingga seringkali tidak bisa dipenuhi oleh produsen kecil," ucap Eureka.

Ia memberi contoh, di Vietnam para pengusaha madu cukup sukses. Karena memiliki standardisasi kualitas madu, bahkan stok kebutuhan lebah dan lahan disiapkan oleh pemerintahnya.

Beda dengan di Indonesia, yang menurut Eureka, masih dilakukan oleh para pengusaha sendiri-sendiri, sehingga kualitas dan harga dari madu sangat beranekaragam.

"Jarang sekali peternak lebah lokal bisa membawa produknya ke luar atau ke negara yang diinginkan. Selalu pakai vendor lain," kata alumni Program Studi Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu.

Di samping itu, kata dia, pengusaha madu mengalami tantangan akibat beredarnya madu-madu palsu yang dijual murah. Hal itu menyebabkan produsen madu mengalami penurunan pasar.

"Tapi kita tetap harus yakin pada produk kita, bahwa produk kita yang dijual adalah produk yang berkualitas. Melengkapi produk jadi sebagus mungkin, lalu menjual dengan lebih detail," kata Eureka.

Pesantren Kilat Ramadhan 2024 yang digagas Komunitas Wartawan Jabodetabek itu secara kolaboratif mendapat dukungan unsur pondok pesantren dan mitra lainnya  yakni Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua Bogor, Cibinong Center Industrial Estate (CCIE), Lembaga Amil Zakat (LAZ) Nasional Bakrie Amanah, Yayasan Baitul Mal (YBM) BRILian, Dr Chiken, Tatajabar, Indofood.

Kemudian, Lezza (Unirama), PT Indocement Tunggal Prakarsa (Tbk), Alfamart, Serikat Pekerja Perum LKBN ANTARA (SPA) dan Pondok Pesantren Al-Fatah dan Ruhama dan Yayasan At-Tawassuth, Bogor.

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Terkait
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement