Senin 27 Nov 2023 01:40 WIB

Festival Kopi Gayo Dorong Kemajuan Desa

Festival itu juga cerminan pentingnya industri kopi masyarakat bagi ketahanan pangan.

Petani memetik kopi arabika pada panen massal dalam rangkaian festival penen kopi gayo di Rembele, Bener Meriah, Aceh, Rabu (21/11/2018).
Foto: Antara/Irwansyah Putra
Petani memetik kopi arabika pada panen massal dalam rangkaian festival penen kopi gayo di Rembele, Bener Meriah, Aceh, Rabu (21/11/2018).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Festival Panen Kopi Gayo 2023 bukan hanya sekadar momen perayaan bagi masyarakat yang telah bekerja keras untuk menghasilkan biji kopi berkualitas tinggi, tetapi juga dapat mendorong pemajuan desa.

"Festival itu juga cerminan dari peran penting industri kopi masyarakat dalam menjaga ketahanan pangan di daerah, " ujar Kapokja Ketahanan Budaya, Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Kemendikbudristek Syukur Asih Suprojo, dalam keterangannya di Jakarta, Ahad (26/11/2023).

Baca Juga

Sebelumnya, diselenggarakan Festival Panen Kopi Gayo 2023, yang berlangsung di Desa Paya Tumpi Baru, Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, pada 24-25 November 2023.

Menurut dia, Desa Paya Tumpi Baru merupakan salah satu desa dari 230 desa yang masuk dalam program Pemajuan Kebudayaan Desa yang diinisiasi sejak tahun 2021 oleh Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek).

 

"Tahun ini memasuki tahun ketiga, tahap pemanfaatan potensi budaya desa. Tahap pemanfaatan bertujuan meningkatkan ketahanan budaya, kolaborasi antarbudaya, dan kesejahteraan masyarakat desa," kata dia.

Desa Tumpi Baru menjadi contoh desa yang berhasil memberdayakan masyarakat desanya dengan potensi sumberdaya yang dimiliki dan menjalin kolaborasi dengan desa-desa lain di sekitarnya. Festival itu diharapkan dapat menjadi ajang pemasaran kopi, seni, dan budaya.

Selain untuk mengenalkan kopi sebagai komoditas andalan setempat, festival juga mengenalkan budaya masyarakat Gayo yang tinggal di beberapa kabupaten di kawasan Dataran Tinggi Gayo.

"Festival itu juga mengenalkan bagaimana cara menanam dan meramu kopi dan juga mengenalkan kopi sebagai komoditas andalan setempat," kata dia.

Tak hanya pengenalan kopi gayo, festival itu juga dilengkapi dengan suguhan pertunjukan kesenian, baik tradisional maupun modern, ritual tradisi, atraksi kopi, lokakarya kebun dan kopi, pasar kopi, kuliner, permainan tradisional, dan pagelaran jazz panen kopi.

Kegiatan itu bertujuan sebagai percontohan pemberdayaan masyarakat melalui kebudayaan dengan cara kreatif, mandiri, dan berkelanjutan dengan pelibatan masyarakat sekitar sebagai pelaksana dan penyelenggara kegiatan.

"Festival itu juga sebagai bentuk upaya mengenalkan dan menumbuhkan semangat melestarikan kebudayaan Gayo bagi generasi muda yang ada di Kabupaten Aceh Tengah saat ini," katanya.

 

sumber : ANTARA
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement