Senin 02 Oct 2023 13:36 WIB

Erick Dinilai Punya Kapasitas Perkuat Ekonomi Syariah Indonesia

Pengurus MES datang dari berbagai komponen masyarakat Indonesia.

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Ahmad Fikri Noor
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sekaligus Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah Erick Thohir.
Foto: Dok PNM
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sekaligus Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah Erick Thohir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Komite Pemberdayaan dan Pembinaan Pelajar, Mahasiswa, dan Kepemudaan PP Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) 2020-2023 Arief Rosyid Hasan mengatakan banyak yang terkejut dengan kembali terpilihnya Erick Thohir sebagai Ketua Umum MES untuk periode 2023-2028. Hal ini merupakan periode kedua yang mana sebelumnya Erick telah memimpin MES pada periode pertama yakni 2020-2023.

"Bagi yang tidak mengenalnya dengan baik, wajar saja kaget. Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Erick Thohir dianggap memiliki kapasitas dan kapabilitas dalam memperkuat ekonomi dan keuangan syariah dalam perekonomian nasional," ujar Arief di Jakarta, Senin (2/10/2023).

Baca Juga

Arief menyampaikan MES yang didirikan oleh para tokoh Islam pada 26 Maret 2000 dan dideklarasikan keesokan harinya di Jakarta dianggap sebagai lokomotif ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. MES memiliki perjuangan besar dari hulu dengan mendorong kebijakan, hingga di hilir dengan berbagai agenda pemberdayaan masyarakat. 

Arief mengatakan MES juga menjadi wadah yang inklusif dalam menghimpun seluruh sumber daya ekonomi dan syariah yang ada serta membangun sinergi antar pemangku kepentingan. Pengurusnya datang dari berbagai komponen masyarakat Indonesia, misalnya dari mereka yang datang dari latang belakang agama dan etnis yang berbeda. 

Jauh sebelum namanya kini populer, ucap Arief, Erick adalah murid dari begawan ekonomi kerakyatan dan keumatan yakni H Adi Sasono. Arief mengatakan agresivitasnya dalam mendobrak hegemoni ekonomi kaum konglomerat komersial agar berpihak pada rakyat diakui dunia seperti ditulis dalam Washington Post pada 2 Maret 1999.

"Ilmu dan komitmen dari Sang Guru inilah yang membuat narasinya dalam banyak panggung politik menjadi menarik," ucap Arief.

Arief mencontohkan pidato pertanggungjawaban Munas MES, Erick menekankan pentingnya penerapan ekonomi Pancasila dan keumatan dalam pengembangan ekonomi syariah untuk pemerataan sekaligus mencegah disparitas pelaku usaha besar dengan kecil. Erick, lanjut Arief, juga menyebut MES harus berperan aktif melahirkan yang tidak ada menjadi ada, yang kecil menjadi menengah, yang menengah menjadi besar, sebagai ekonomi pancasila dan ekonomi keumatan.

Berkat tangan dingin mantan Presiden Inter Milan tersebut, Arief mengatakan Indonesia kini memiliki Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai bank syariah terbesar dengan aset sebesar Rp 314 triliun dan menduduki peringkat enam bank terbesar di Indonesia. 

"Katanya, kita sejak lama bicara ingin mamajukan ekonomi dan keuangan syariah, tapi tidak punya bank syariah yang besar. Selain itu, BUMN bersama BPKH juga ikut terlibat menyelamatkan Bank Muamalat sebagai aset umat, bank syariah pertama di Indonesia," kata Arief.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement