Sabtu 23 Mar 2024 22:10 WIB

BI Babel Tingkatkan Ekonomi Pesantren Melalui Budi Daya Cabai

Ini dukungan BI menjaga stabilitas inflasi berbasis pesantren.

Panen cabai (ilustrasi).
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Panen cabai (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, PANGKALPINANG -- Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kepulauan Bangka Belitung (Babel) berupaya meningkatkan ekonomi pondok pesantren melalui program budi daya tanaman cabai.

BI menyambut baik panen perdana cabai yang telah berhasil dilakukan Pondok Pesantren Quran Cahaya, Desa Rias, Kabupaten Bangka Selatan. "Ini bentuk dukungan kami untuk meningkatkan ekonomi pesantren sekaligus menjaga stabilitas inflasi berbasis pesantren," kata Deputi Kepala Kantor Perwakilan BI Babel Nurfadilah, di Pangkalpinang, kemarin.

Baca Juga

Ia mengataka, Kantor Perwakilan BI Babel memiliki komitmen dalam meningkatkan perekonomian masyarakat. Salah satunya mendorong pondok pesantren agar semakin berdaya dan tangguh melalui budi daya cabai rawit dan hidroponik.

"Kami berharap apa yang sudah kita lakukan selama ini semakin berkembang, keberhasilan yang sudah dicapai bisa ditingkatkan dan dikembangkan di wilayah lain untuk meningkatkan ekonomi pesantren," kata Nurfadilah 

Keberhasilan panen cabai ini juga diharapkan turut mendukung ketersediaan pasokan cabai khususnya di Kabupaten Bangka Selatan. Dengan begitu, dapat memitigasi pergerakan harga cabai rawit menjelang hari besar keagamaan Idul Fitri 1445 Hijriah.

Menurut dia, BI Babel bekerja sama dengan pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) selama ini telah berupaya meningkatkan pasokan pangan lokal yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Salah satunya pondok pesantren.

Pondok Pesantren Quran Cahaya, Bangka Selatan merupakan salah satu penerima bantuan teknis demplot cabai yang diinisiasi BI Babel dan penerima manfaat Program Sosial Bank Indonesia 2023 dalam mendukung Program Kemandirian Ekonomi Pesantren dan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

Ponpes Quran Cahaya menanam cabai rawit di lahan seluas 1.200 meter persegi dengan jumlah bibit pohon 1.100 batang. Sampai saat ini telah memperoleh hasil panen perdana pada bulan Februari hingga sekarang sebanyak 118 kg yang masih akan bertambah dengan panen selanjutnya.

Selain dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sebagian hasil panen tersebut juga dijual ke keluarga santri dan ke pasar, sehingga menambah pendapatan pondok pesantren. "Semoga keberhasilan ini bisa memberikan semangat para santri untuk terus menekuni usaha yang dijalankan, sehingga bisa ikut berperan dalam pengendalian inflasi melalui budidaya cabai rawit," kata Nurfadilah.

 

 

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement