Kamis 04 Jan 2024 14:36 WIB

Saham BSI Prospektif, Masuk Top 5 Bank dengan Kenaikan Tertinggi

Pada pembukaan perdagangan hari ini saham BRIS masih bertahan di level 1.800.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Ahmad Fikri Noor
Petugas melayani nasabah di Kantor Cabang BSI KC Mayestik, Jakarta, Kamis (28/12/2023).
Foto: Dok Republika
Petugas melayani nasabah di Kantor Cabang BSI KC Mayestik, Jakarta, Kamis (28/12/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Harga saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI dinilai prospektif dan menjanjikan ke depan, setelah melanjutkan tren penguatan selama sebulan terakhir. Emiten bersandi BRIS tersebut menjadi lima bank dengan kenaikan harga saham tertinggi, dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (4/1/2024).

Pada penutupan pasar modal Rabu (3/1/2024) kemarin, BRIS menguat di level Rp 1.800 atau naik 3,45 persen dibandingkan dengan harga penutupan di hari sebelumnya. Kenaikan harga saham BRIS ini terjadi pada saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 0,61 persen ke level 7.279 dari hari sebelumnya yang sebesar 7.323.

Baca Juga

Pada pembukaan perdagangan hari ini saham BRIS masih bertahan di level 1.800. Sampai sesi pertama perdagangan pun terus naik ke level 1.855, jika dibandingkan dengan dua bulan lalu, saham BRIS telah naik hampir 20 persen.

Pencapaian tersebut menunjukkan secara year on year (yoy) BRIS telah memberikan return yang signifikan yaitu sebesar 41,02 persen. Dengan demikian mengantarkan BSI masuk dalam Top 5 emiten bank dengan return saham tertinggi. Positifnya pergerakan saham BRIS tersebut didorong oleh peningkatan minat dari investor institusi. Hal ini tecermin dari net buy investor institusi yang tinggi baik asing maupun domestik.

Kenaikan harga saham tersebut tak lepas pula dari meningkatnya kepercayaan investor terhadap kinerja fundamental BRIS yang solid, dan tumbuh secara berkelanjutan semenjak merger pada awal 2021. Berdasarkan laporan keuangan perseroan sampai dengan November 2023, laba bersih BSI tercatat sebesar Rp 5,1 triliun bertumbuh 30 persen yoy.

Pertumbuhan laba bersih tersebut, sejalan dengan peningkatan pembiayaan yang disalurkan yaitu mencapai Rp 235,01 triliun atau naik sekitar 14 persen yoy. BSI pun mampu menjaga kualitas aset tetap prudent. Hal ini terbukti dengan non-performing financing (NPF) bruto yang menurun menjadi 2,15 persen dibandingkan dengan posisi November 2022 sebesar 2,53 persen.

Ke depannya, dengan hampir 20 juta nasabah dan penetrasi perbankan syariah yang masih dinilai rendah saat ini, potensi pertumbuhan BRIS masih sangat menjanjikan. Dengan faktor fundamental yang menjanjikan tersebut, 16 analis yang meng-cover BRIS merekomendasikan “Buy”. Adapun data Bloomberg menunjukkan target harga BRIS berdasarkan konsensus sebesar Rp 2.110.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement