Ahad 24 Dec 2023 10:35 WIB

Lagi Ramai SGIE, Pakar Sebut Kebijakan Industri Halal Masih Belum Optimal

Dibutuhkan kebijakan terintegrasi dari hulu sampai dengan hilir.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Ahmad Fikri Noor
Pengunjung melintas di dekat logo halal.
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Pengunjung melintas di dekat logo halal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat ekonomi syariah Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI, Azis Setiawan mengatakan, secara umum pada skala global perkembangan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia mengalami perbaikan peringkat pada beberapa sektor, seperti pariwasata syariah, industri makanan halal, fesyen dan financial technology (fintech). Namun, beberapa sektor menurutnya masih mengalami stagnasi dan penurunan peringkat dalam indikator aspek ekonomi dan keuangan islam pada Indikator Ekonomi Syariah Global (GIEI), Islamic Finance Development Indicator (IFDI), dan Global Islamic Finance Report (GIFR).

"Bahwa potensi Indonesia dengan sumber daya yang berlimpah seharusnya bisa menempati rangking yang lebih baik dibanding Malaysia, Saudi Arabia, dan Uni Emirat Arab (UEA) pada laporan peringkat SGIE. Hal ini menunjukkan adanya gap (perbedaan) yang masih besar antara potensi dan harapan," ujarnya kepada Republika, Ahad (24/12/2023).

Baca Juga

"Gap ini tentu lahir dari kebijakan termasuk dukungan regulasi yang belum optimal terkait industri halal dan keuangan syariah secara menyeluruh dari hulu dan hilirnya," sambungnya.

Sehingga, dibutuhkan kebijakan terintegrasi dari hulu sampai dengan hilir yang komprehensif dan kuat. Tujuannya, agar industri halal dan keuangan syariah Indonesia semakin kokoh dalam rantai pasok halal global dan rantai keuangan syariah global.

 

Kebijakan besar yang bisa dibuat antara lain terkait kawasan industri halal dan integrasi keunggulan sumber daya pada banyak wilayah yang seharusnya dibangun secara kuat, terintegrasi dan berkelanjutan. Dibutuhkan pula  dukungan ekosistem baik kebijakan pendanaan, tenaga kerja, regulasi, insentif pajak, jaringan dan pemasaran yang kokoh.

"Jadi berpikirnya adalah harus membangun kawasan industri halal dalam skala besar yang terintegrasi dengan jaringan UMKM-nya, serta dalam ekosistem yang kuat. Kalau ini tidak dilakukan tentu skalanya akan terbatas, kurang efisien dan kurang optimal. Sehingga pasar halal global yang besar tidak mampu ditarik benefitnya secara besar untuk perekonomian nasional, lapangan kerja dan kesejahteraan rakyat kita," terangnya.

Secara umum pengembangan ekonomi syariah memiliki keunggulan penting untuk memberikan manfaat bagi Indonesia dalam kompetisi global. Terlebih sebagai negara muslim terbesar dengan sumber daya berlimpah, seharusnya bisa dioptimalkan agar benefit yang diperoleh dalam rantai halal global dan keuangan syariah global bermanfaat untuk perekonomian nasional.

Tak hanya itu, untuk produksi halal global, pariwisata halal, fesyen dan kosmetik muslim, dan investasi syariah global bisa dioptimalkan posisi Indonesia sehingga akan bermanfaat besar bagi peningkatan perekonomian nasional, lapangan kerja dan kesejahteraan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement