Jumat 11 Sep 2026 18:01 WIB

Perkuat Penetrasi Pasar Syariah, BSN Gandeng NU dan Muhammadiyah

BSN memiliki peluang besar untuk memperluas pasar.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Ahmad Fikri Noor
Karyawan Bank Syariah Nasional (Bank BSN) melayani nasabah di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Foto: Dok Republika
Karyawan Bank Syariah Nasional (Bank BSN) melayani nasabah di Jakarta, Selasa (19/5/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT Bank Syariah Nasional (BSN) menyiapkan strategi memperluas bisnis perbankan syariah melalui ekosistem Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. BSN akan menyasar kebutuhan pembiayaan di lingkungan kedua organisasi masyarakat tersebut, termasuk pembiayaan bagi guru.

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Nixon L.P. Napitupulu mengatakan BSN memiliki peluang besar untuk memperluas pasar melalui ekosistem NU dan Muhammadiyah. Menurut dia, pasar yang dapat digarap dari kedua ekosistem tersebut sangat besar.

Baca Juga

“Terutama kita mendorong mereka lakukannya lewat ekosistem seperti Muhammadiyah, ekosistem NU, pemberian kredit kepada guru-guru NU, Muhammadiyah dan sebagainya. Kan marketnya besar sekali,” ujar Nixon dalam Public Expose Live 2026 di Jakarta, Kamis (10/9/2026).

Nixon mengatakan penguatan ekosistem tersebut dapat menjadi salah satu penopang pertumbuhan bisnis syariah BSN ke depan. “Nah ini tentu saja menurut saya jadi salah satu tulang punggung pertumbuhan syariah ke depannya selain BSI,” katanya.

Strategi tersebut dijalankan ketika posisi BSN di industri perbankan syariah mulai menguat. Nixon menyebut saat ini terdapat dua pemain besar di industri tersebut, yakni BSN dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI).

“Kalau lihat pertumbuhan mereka dari sisi bisnis kan growth-nya bagus sekali. Memang industri ini pemainnya bisa dibilang tinggal dua yang besar yaitu BSN dan BSI. Jadi marketnya besar sekali,” ujar Nixon.

Dia menilai besarnya pasar syariah membuat peluang pertumbuhan BSN masih terbuka. Bahkan, dalam waktu satu tahun, BSN telah menempati posisi kedua di industri tersebut.

“Tidak mungkin digarap BSI sendiri hari ini. Dan hanya dalam waktu satu tahun BSN sudah nomor dua. Itu membuktikan marketnya memang very dominant di satu perusahaan selama ini,” katanya.

Kerja sama dengan ekosistem Muhammadiyah juga telah dijalankan BSN melalui penyediaan layanan keuangan bagi lingkungan organisasi tersebut. Dalam paparannya, BSN menyebut layanan mencakup kebutuhan universitas, rumah sakit, hingga bisnis turunan Muhammadiyah. BSN juga mengembangkan pembiayaan KPR, komersial, dan konsumer bagi anggota Muhammadiyah, serta layanan penggajian dan digital.

Dari sisi kinerja, BSN mencatat total aset Rp 78,8 triliun hingga Juni 2026. Total pembiayaan mencapai Rp 59,6 triliun, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 61,6 triliun. Rasio pembiayaan bermasalah atau NPF bruto berada di level 2,7 persen dan rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 35,7 persen.

Bisnis emas juga menjadi salah satu produk yang tumbuh pesat. Pembiayaan cicil emas BSN mencapai Rp 163 miliar pada Juni 2026, melonjak 2.693 persen dibandingkan Rp 5,8 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Produk tersebut mencatat imbal hasil sekitar 9,4 persen.

 

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi