REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Pariwisata menilai tren wisatawan Muslim global mengalami perubahan signifikan, dari sekadar mencari destinasi wisata menjadi mencari pengalaman yang lebih bermakna, aman, inklusif, dan berkelanjutan. Staf Ahli Bidang Transformasi Digital dan Inovasi Pariwisata Kementerian Pariwisata Masruroh mengatakan perubahan tersebut didorong oleh dominasi generasi muda dalam populasi Muslim global. Sekitar 71 persen umat Islam dunia saat ini berusia di bawah 40 tahun dan menjadi kelompok utama penggerak pasar wisata masa depan.
"Wisatawan Muslim masa kini menginginkan pengalaman yang lebih bermakna, lebih inklusif, berbasis digital, dan sustainable," kata Masruroh dalam Islamic Finance Dialogue (IFD) 2026 yang diselenggarakan Republika di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Menurut dia, wisatawan Muslim kini cenderung melakukan perjalanan secara lebih mandiri dengan memanfaatkan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI). Faktor kepercayaan, keselamatan, dan stabilitas geopolitik juga menjadi pertimbangan utama sebelum melakukan pemesanan perjalanan.
Masruroh menjelaskan motivasi perjalanan wisata telah bergeser dari sekadar mengisi waktu luang menjadi mencari ikatan emosional yang lebih mendalam. Wisatawan semakin tertarik pada pengalaman yang berkaitan dengan lingkungan, pemberdayaan komunitas lokal, penelusuran silsilah keluarga, serta warisan budaya.
"Perjalanan tidak hanya sekadar jalan-jalan, tetapi menjadi sarana untuk tujuan yang lebih bermakna," ujarnya.
Ia juga menyoroti meningkatnya peran wisatawan perempuan Muslim dalam industri pariwisata global. Jumlah wisatawan perempuan Muslim diperkirakan mencapai 90 juta orang atau sekitar 48 persen dari total perjalanan wisatawan Muslim dunia.