Rabu 28 Jan 2026 07:57 WIB

Keuangan Syariah Indonesia Tertinggal dari Malaysia, tapi Lebih Baik dari Mesir

Pangsa pasar keuangan syariah Indonesia masih di kisaran 11 persen.

Rep: Eva Rianti/ Red: Gita Amanda
Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (PEBS FEB UI) Rahmatina Awaliah Kasri menyampaikan paparan saat menjadi narasumber dalam FGD (Focus Group Discussion) Republika di Jakarta, Selasa (27/1/2026). FGD Republika tersebut bertemakan New Islamic Finance Literacy: How to Scaling up the Market Share.
Foto: Republika/Prayogi
Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (PEBS FEB UI) Rahmatina Awaliah Kasri menyampaikan paparan saat menjadi narasumber dalam FGD (Focus Group Discussion) Republika di Jakarta, Selasa (27/1/2026). FGD Republika tersebut bertemakan New Islamic Finance Literacy: How to Scaling up the Market Share.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pangsa pasar (market share) keuangan syariah di Indonesia masih berada di kisaran 11 persen, relatif rendah dibandingkan sejumlah negara muslim di dunia. Kendati demikian, market share keuangan syariah Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan Mesir dan Turki.

“Kalau kita bandingkan Indonesia dengan negara lain di dunia, memang walaupun Indonesia memiliki penduduk muslim terbesar di dunia, market share keuangan syariah masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain. Indonesia muslimnya 242,7 juta dengan market share 7,3 persen, dibandingkan Malaysia yang penduduk muslimnya 20 juta dengan market share 33,2 persen. Atau Kuwait 60,6 persen dan Arab Saudi 75,3 persen,” ungkap Ketua Program Ekonomi dan Bisnis Syariah (PEBS) FEB UI Rahmatina Kasri saat bertandang ke kantor Republika di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (27/1/2026).

Baca Juga

Rahmatina mengatakan, meski demikian, market share keuangan syariah Indonesia tidak tertinggal dibandingkan beberapa negara lain, seperti Mesir dan Turki. “Tapi ternyata kita tidak jauh berbeda dengan Mesir yang juga dikenal memiliki penduduk muslim cukup besar, sekitar 90 juta, dengan market share hanya 5 persen. Turki dengan sekitar 90 juta penduduk, market share-nya 8,2 persen, tidak jauh berbeda,” ungkapnya.

Menurut analisis Rahmatina, besaran market share di berbagai negara berkaitan erat dengan tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah di masing-masing negara. Ia menilai Indonesia perlu meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah untuk mengerek market share keuangan syariah ke depan.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS), indeks literasi keuangan syariah penduduk Indonesia mencapai 43,42 persen. Adapun indeks inklusi keuangan syariah hanya sebesar 13,41 persen. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan literasi dan inklusi keuangan konvensional yang masing-masing mencapai 66,46 persen dan 80,51 persen.

“Mungkin yang perlu kita lakukan adalah mempelajari strategi literasi dan inklusi yang diterapkan negara-negara muslim. Mengapa ada yang berhasil seperti Malaysia dan Kuwait, tetapi ada juga yang biasa saja seperti Indonesia, Mesir, dan Turki. Padahal Indonesia merupakan negara G20 dengan populasi muslim terbesar, di samping Arab Saudi di peringkat pertama,” jelasnya.

Lebih lanjut, Rahmatina berpendapat kondisi tersebut dipengaruhi faktor sosial politik di masing-masing negara. Ia mencontohkan sistem top-down yang diterapkan di Malaysia sebagai salah satu faktor keberhasilan.

“Sedikit banyak hal ini sangat dipengaruhi kondisi sosial politik. Kita tahu Malaysia sangat suportif, kebijakannya bersifat top-down, ada dukungan penuh atau kebijakan afirmatif dari pemerintah. Sementara ada negara yang tidak terlalu suportif, tetapi juga tidak menghalangi. Di Turki, misalnya, tidak digunakan istilah bank syariah, melainkan participation bank. Di Turki dan Mesir, istilah syariah dianggap sensitif sehingga meskipun prinsipnya syariah, tidak menggunakan nama syariah,” jelasnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement