Selasa 13 Jun 2023 20:27 WIB

Sentra Kuliner Halal dan Non-Halal di Kota Bogor Terpisah

Sebagian besar pedagang menjawab dengan jujur terkait dagangan yang dijajakannya.

Rep: Shabrina Zakaria/ Red: Lida Puspaningtyas
Warga mengambil hidangan Soto Mie pada acara Bogor Breakfast Festival 2022 di Alun-alun Kota Bogor, Jawa Barat, Ahad (23/10/2022). Pada acara tersebut sebanyak 5.000 porsi hidangan Soto Mie yang merupakan kuliner khas Kota Bogor itu dibagikan gratis kepada warga untuk sarapan pagi. Republika/Putra M. Akbar
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Warga mengambil hidangan Soto Mie pada acara Bogor Breakfast Festival 2022 di Alun-alun Kota Bogor, Jawa Barat, Ahad (23/10/2022). Pada acara tersebut sebanyak 5.000 porsi hidangan Soto Mie yang merupakan kuliner khas Kota Bogor itu dibagikan gratis kepada warga untuk sarapan pagi. Republika/Putra M. Akbar

REPUBLIKA.CO.ID, 
BOGOR -- Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto, angkat bicara mengenai wacana pemisahan makanan halal dan non-halal di pusat kuliner di Kota Bogor. Sejauh ini, di Kota Bogor kuliner non-halal hanya terdapat di kawasan pecinan Suryakencana, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.

“Sejauh ini yang non halal itu di Suryakencana. Itu sudah diatur sejak lama, mana yang non halal,” kata Bima Arya kepada Republika, Selasa (13/6/2023).

Baca Juga

Kendati demikian, Bima Arya mengatakan, seiring dengan penataan kawasan Suryakencana yang menjadi pusat kuliner di Kota Bogor, bagian kuliner non-halal juga rencananya akan dilokasikan secara khusus. Terutama terkait pencantuman keterangan makanan non-halal agar pengunjung dan wisatawan tidak kebingungan.

“Dan akan terutama dicantumkan penunjuknya, bahwa ini makanan non-halal. Kalau di tempat lain saya kira nggak ada, cuma di Suryakencana itupun akan diatur, diperjelas, dirapikan lagi,” jelas Bima Arya.

Salah seorang wisatawan kawasan Suryakencana, Caca (28 tahun), menilai kawasan Suryakencana sebaiknya dibiarkan seperti saat ini apa adanya. Sebab hal tersebut menjadi citi khas kawasan Suryakencana.

Namun ia setuju jika penjaja makanan non-halal mencantumkan apa yang dijual. Agar wisatawan Muslim sepertinya tidak rancu untuk membeli makanan.

“Cuma sejauh ini Alhamdulillah kita peka sih mana yang jual halal dan non-halal. Dan tinggal tanya aja kan ke penjualnya, pasti dia jawab,” kata Caca.

Wisatawan lain, Mancay (28) mengatakan di kawasan Suryakencana saat ini sudah cukup mudah untuk membedakan makanan halal dan non-halal. Terlebih sebagian besar pedagang menjawab dengan jujur terkait dagangan yang dijajakannya.

“Lagian kalau nggak yakin tinggal bertanya. Sejauh ini di Kota Bogor sudah nyaman jajan di Suryakencana macam-macam kulinernya,” ucapnya.

Tanggapan Wali Kota Bogor ini seiring dengan viralnya berita terkait restoran Italia di Jakarta Selatan yang menyajikan makanan non-halal berupa babi, kepada pengunjungnya yang beragama Islam. Restoran bernama Mamma Rosy tersebut kini sudah meminta maaf dan mengakui telah melakukan kesalahan besar.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement