REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pemerintah mulai membidik diaspora Indonesia untuk memperluas basis investor instrumen syariah nasional. Salah satu produk yang didorong adalah Sukuk Tabungan (ST) seri ST016 yang akan ditawarkan mulai 8 Mei hingga 3 Juni 2026.
Instrumen tersebut dinilai semakin mudah dijangkau karena dapat dibeli secara digital dengan nilai investasi mulai Rp1 juta. Pemerintah menilai perkembangan teknologi telah membuka akses investasi bagi masyarakat, termasuk warga Indonesia yang tinggal di luar negeri.
Direktur Pembiayaan Syariah Kementerian Keuangan Deni Ridwan mengatakan, tantangan utama saat ini bukan lagi akses terhadap layanan keuangan, melainkan rendahnya pemahaman masyarakat mengenai investasi.
“Investasi sekarang bisa dimulai dari Rp1 juta melalui perangkat pribadi, termasuk oleh diaspora di luar negeri,” ujar Deni dalam Webinar EKSYAR Diaspora dan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI), Rabu (6/5/2026).
Pemerintah menawarkan Sukuk Tabungan seri ST016 dengan imbal hasil sekitar 6 hingga 7 persen. Instrumen tersebut juga dikenakan pajak lebih rendah dibanding deposito dan dijamin negara sehingga dinilai relatif aman bagi investor ritel.
Guru Besar Akuntansi Syariah Universitas Tazkia Murniati Mukhlisin mengatakan, investasi syariah dapat menjadi instrumen membangun ketahanan finansial keluarga secara bertahap.
Ia menyarankan masyarakat mulai menyisihkan sebagian pendapatan rutin untuk investasi. “Minimal 10 persen pendapatan bulanan dialokasikan untuk investasi. Kalau tidak ada cicilan utang bisa sampai 40 persen,” kata Murniati.
Menurut dia, instrumen sukuk kini juga semakin berkembang, termasuk green sukuk dan Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) yang menggabungkan aspek investasi dan dampak sosial.
Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Sutan Emir Hidayat menilai diaspora Indonesia memiliki potensi besar untuk memperluas pasar investasi syariah nasional. Selain memiliki kemampuan finansial, diaspora dinilai dapat membantu memperkuat kepercayaan investor global terhadap Indonesia.
Namun, Koordinator PPI Dunia Andika Ibrahim Nasution mengatakan, minat diaspora terhadap investasi syariah masih perlu ditingkatkan. Menurut dia, banyak diaspora sudah mengenal ekonomi syariah Indonesia, tetapi belum terdorong untuk ikut berinvestasi.
Karena itu, promosi produk investasi syariah dinilai perlu dibuat lebih sederhana dan dekat dengan generasi muda agar tidak hanya dipandang sebagai produk domestik, tetapi juga peluang investasi global.
Sebelum ST016, pemerintah telah menerbitkan Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI029 pada Januari-Februari 2026 dan Sukuk Ritel seri SR024 pada Maret-April 2026.