Kamis 18 Jan 2024 12:24 WIB

LPEI Nyatakan Rempah Indonesia Jadi Sumber Devisa Negara

Ekspor rempah tertinggi dicatatkan ke Bangladesh, Pakistan, China, India, dan Peru.

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Fuji Pratiwi
Rempah (ilustrasi)
Foto: www.pixabay.com
Rempah (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau indonesia Eximbank menyatakan, rempah Indonesia telah mendunia dan menjadi sumber devisa.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, selama Januari-November 2023 volume ekspor rempah-rempah mencapai 148,22 ribu ton atau naik 29,77 persen year on year (yoy). Sementara, total nilai ekspornya mencapai 564,12 juta dolar AS. Angka itu turun 4,16 persen yoy.

Baca Juga

Meski agak turun, namun nilai tersebut tetap mengindikasikan menguatnya permintaan terhadap rempah-rempah Indonesia di tengah fenomena penurunan harga rempah-rempah secara agregat. China, Amerika Serikat, India, Vietnam, dan Belanda menjadi negara tujuan utama ekspor komoditas tersebut.

Data juga menunjukkan, peningkatan ekspor tertinggi terjadi pada periode Januari-November 2023 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor tertinggi dicatatkan ke Bangladesh, Pakistan, China, India, dan Peru.

 

"Pada masa awal merebaknya pandemi Covid-19, kesadaran akan pentingnya kesehatan meningkat. Rempah-rempah bukan hanya bumbu, tetapi juga bahan baku untuk herba dan obat lokal yang mendukung sistem imunitas tubuh, ini turut mendukung permintaan rempah-rempah dunia," ujar Kepala Divisi Riset dan Pengembangan LPEI Rini Satriani melalui keterangan resmi yang dikutip, Kamis (18/1/2024).

Kata dia, rempah-rempah seperti pala, lawang, dan kapulaga memiliki peran penting dalam industri makanan dan kosmetik. Selain itu, adas, ketumbar, dan jintan membuktikan manfaat kesehatannya, mulai dari merawat kesehatan perut hingga menjaga kadar gula darah dan mengurangi kolesterol jahat.

Sepanjang Januari-November 2023, terjadi pelemahan permintaan rempah-rempah seperti pala, lawang, kapulaga, lada, dan kayu manis. Di sisi lain, beberapa rempah membukukan pertumbuhan positif seperti cengkeh yang tumbuh 61,03 persen yoy, adas, ketumbar, jinten tumbuh 81,55 persen, dan jahe, kunyit, dan rempah lainnya yang tumbuh 139,47 persen yoy.

"Walau beberapa rempah mengalami penurunan permintaan, namun ada pula yang tumbuh positif, seperti cengkeh dan rempah-rempah lainnya," tuturnya.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement