Selasa 16 May 2023 19:37 WIB

Pakar Keamanan Siber Ragukan Kebocoran Data Nasabah BSI oleh LockBit

CISSReC sedang mencoba menganalisis lebih dalam data-data yang disebar di darkweb.

Nasabah BSI melakukan transaksi melalui ATM di Kantor Cabang Jakarta Thamrin, Jakarta, Kamis (11/5/2023). Layanan perbankan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) telah kembali normal, baik di kantor cabang, mesin anjungan tunai mandiri (ATM) maupun mobile banking sehingga dapat digunakan oleh nasabah untuk bertransaksi.
Foto: Prayogi/Republika
Nasabah BSI melakukan transaksi melalui ATM di Kantor Cabang Jakarta Thamrin, Jakarta, Kamis (11/5/2023). Layanan perbankan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) telah kembali normal, baik di kantor cabang, mesin anjungan tunai mandiri (ATM) maupun mobile banking sehingga dapat digunakan oleh nasabah untuk bertransaksi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kelompok peretas spesialis ransomware LockBit dikabarkan telah membocorkan data nasabah PT Bank Syariah Indonesia, Tbk. atau BSI di darkweb. Pakar Keamanan Siber yang juga Ketua Communication and Information System Security Research Centre (CISSReC) Pratama Persadha mengatakan, tangkapan layar yang disampaikan LockBit sangat meragukan

“Dari tangkapan layar yang disampaikan, file yang didapat oleh geng ransomware Lockbit 3.0 sepertinya bukan berasal dari core server dari BSI dan lebih pada data yang tersimpan di dalam PC/Laptop milik karyawan BSI, ditambah dalam tangkapan layarnya Lockbit 3.0 menyatakan mereka berhasil meretas salah satu staf BSI,” ujar Pratama, Selasa (16/5/2023).

Baca Juga

Untuk memastikan argumennya, CISSReC sedang mencoba menganalisis lebih dalam data-data yang disebar di darkweb Lockbit.

“Saat ini tim CISSReC juga sedang berusaha mendownload file yang dipublikasikan tersebut untuk dianalisis,” tuturnya.

Sementara itu, Chairman Indonesia Cyber Security Forum Ardi Sutedja mengatakan masyarakat tidak perlu panik yang berlebihan. Ini karena sudah ada protap di industri dalam mengatasi serangan yang terjadi.

Justru dengan adanya serangan siber, membuat perusahaan yang jadi korban makin meningkatkan keamanan sistem IT miliknya. Sehingga pada akhirnya justru berdampak positif pada keamanan dan kenyamanan konsumen maupun nasabah.

Terkait gangguan sistem IT yang dialami Bank Syariah Indonesia, Ardi mengaku memahami hal yang terjadi di internal. Ia menyebutkan insiden tersebut sudah dan sedang terus ditangani oleh gabungan tim berpengalaman sehingga nasabah tidak perlu khawatir berlebihan.

“Sebenarnya sejak tim restorasi sudah masuk ke BSI dan OJK juga sudah mengawasi, nasabah tidak perlu khawatir lagi terhadap dana simpanannya,” kata Ardi.

Ardi pun menyebutkan, proses penilaian dan forensik digital memang memakan waktu cukup panjang, dan tidak bisa cepat. Hal itu dikarenakan proses tersebut membutuhkan kehati-hatian melihat apa saja yang terdampak. Masyarakat, katanya, perlu bersabar karena proses restorasi perlu penilaian menyeluruh yang memakan waktu.

"Saya yakin ini sekarang sudah ditangani oleh tim yang sangat berpengalaman, cuma masyarakat harus bersabar," ujar Ardi kepada media.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement