Rabu 19 Jul 2017 13:51 WIB
Syariah

Bisnis dan Spiritualitas tak Bisa Saling Meniadakan

Mohammad Munif Ridwan
Foto: dokpri
Mohammad Munif Ridwan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Mohammad Munif Ridwan*

Ada anggapan yang nyaris sempurna menjadi keyakinan dalam jagad bisnis: jika Anda ingin mendapatkan hasil tertinggi dari bisnis yang Anda jalankan, lupakanlah persoalan moral. Nah, relasi antara moralitas dan uang yang saling meniadakan itu secara argumentatif berhasil diruntuhkan oleh Patricia Aburdene dalam bukunya ‘Megatrends 2010: The Rise of Conscious Capitalism’. 

Aburdene membuktikan dengan bertumpuk data dan fakta bahwa uang dan moral bukanlah hal yang saling menafikan dalam urusan bisnis. Di dalam buku yang lain, ‘Spiritual Company’, Ary Ginanjar Agustian membedah perusahaan-perusahaan kelas dunia dengan standar moral tinggi namun justru memiliki keunggulan kinerja secara finansial. 

Aburdene lalu mengilustrasikan adanya gelombang kapitalisme baru yang tengah kuat bergejolak, yang dia sebut Conscious Capitalism. Conscious Capitalism ini, katanya, adalah cetak biru kecenderungan sosial ekonomi dan spiritual yang sedang dan bakal menggejala di dunia bisnis.

Dalam sebuah forum diskusi leadership yang digelar Harvard Business School (2002), sejumlah eksekutif top dunia dari berbagai jenis perusahaan pernah mencoba melakukan diskusi untuk menjawab pertanyaan sederhana: "Does Spirituality Drive Success?" (apakah spiritualitas dapat membawa kesuksesan?). 

Simpulan dari diskusi itu cukup mencengangkan. Mereka memunculkan kata sepakat bahwa spiritualitas mampu menghasilkan lima hal, yaitu (1) integritas atau kejujuran; (2) energi positif yang menghasilkan semangat; (3) memunculkan inspirasi, prakarsa, dan inisiatif; (4) menelurkan wisdom atau kebijaksanaan; dan (5) menggugah keberanian dalam mengambil keputusan. 

Singkat kata, terjawablah pertanyaan diskusi itu bahwa spiritualitas mampu mengantarkan ke tangga kesuksesan. Begitu pentingnya modal spiritualitas dalam mendukung keberhasilan diri dan institusi bisnis juga diungkapkan oleh pemikir manajemen Danah Zohar. Ia menginsafkan kita bahwa spiritualitas adalah suatu potensi yang tertanam (built in) dalam setiap pribadi manusia, apapun agama dan keyakinan religiositasnya. 

Banyak cara yang dipraktekkan oleh para pemimpin bisnis untuk mengaktualisasikan potensi kecerdasan spiritualnya. Ada yang melalui pelafalan mantra, meditasi atau yoga, sebagaimana dilakukan oleh pebisnis sukses dari India, Narayana Murthy (Infosys Technologies). 

Terdapat pula pemimpin bisnis yang berhasil menaklukkan empat ‘binatang buas’ dalam dirinya (iri hati, ego diri, keserakahan, dan ambisi) melalui proses ‘bertapa’, seperti dilakukan oleh Dee Ward Hock, pendiri dan mantan CEO Visa International. Danah Zohar sendiri mengaku potensi spiritualnya bisa terstimulasi apabila ia mendengarkan musik. 

Nah, jika para pemimpin bisnis di negara-negara barat (non-Muslim) saja memiliki stimulasi untuk menangkap kecerdasan spiritualnya, bagaimana dengan perusahaan-perusahaan kita yang jelas-jelas memiliki label syariah, seperti hotel syariah, bank syariah, asuransi syariah, dan sebagainya? Idealnya, aktualisasi nilai-nilai Islam sebagai pengejawantahan potensi spiritualitas itu harus bergema lebih dahsyat. Bukankah setiap karyawan perusahaan syariah sesungguhnya dibekali oleh potensi untuk meniru sifat-sifat mulia Allah, Asmaaul Husna? 

Bukankah ibadah-ibadah ritual yang dijalankan secara lebih tertib, seperti shalat berjamaah tepat waktu, salat dhuha, puasa sunnah, yang biasa dijalankan para karyawan perusahaan syariah adalah sarana untuk menstimulasi dan mengasah potensi itu? Maka, ibadah dalam Islam tidak hanya berhenti kepada ritualnya saja. Ritual-ritual itu harus dipahami dan dihayati maknanya dengan benar sehingga berujung pada pembentukan pribadi karakter unggul (akhlaqul karimah).

Nilai-nilai itu berada pada garis orbit spiritual yang tidak hanya diterima oleh seluruh penduduk bumi, bahkan oleh penduduk langit. Inilah ‘nilai puncak’  (ultimate value), yaitu prinsip-prinsip yang dapat diterima dalam bahasa bulan, bahasa matahari, bintang, dan jiwa manusia yang memiliki fitrah tertinggi.

Tanpa nilai-nilai itu, maka manusia, organisasi, perusahaan, masyarakat, maupun negara, akan menjadi seperti gambaran dalam QS Ibrahim (14): 26, yaitu pohon yang dicabut berikut akar-akarnya dari permukaan bumi.  Pohon itu bukan hanya tidak bisa berdiri tegak, tetapi juga binasa. 

 

*Pimpinan kelompok operasional unit usaha syariah BPD DIY 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement