Rabu 30 Sep 2026 19:54 WIB

Investor Bisa Akses Saham Perusahaan Emas Global Lewat Reksa Dana Syariah

Eksposur emas tersedia tanpa membeli logam mulia secara langsung.

Bank DBS Indonesia dan PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen menandatangani kerja sama penyediaan Batavia Gold Sharia Equity USD di Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Foto: DBS
Bank DBS Indonesia dan PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen menandatangani kerja sama penyediaan Batavia Gold Sharia Equity USD di Jakarta, Rabu (30/9/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Emas dan komoditas global masih menjadi salah satu pilihan diversifikasi di tengah perubahan ekspektasi suku bunga, dinamika nilai tukar, dan tingginya harga energi menjelang kuartal IV 2026. Kondisi tersebut turut membuka peluang bagi investor Indonesia untuk memperoleh eksposur ke saham perusahaan emas dan komoditas global melalui instrumen investasi berbasis syariah.

DBS CIO menilai emas dan sejumlah komoditas masih memiliki peran dalam portofolio terdiversifikasi, meski investor perlu semakin selektif setelah kenaikan harga yang kuat. Tren jangka panjang seperti kebutuhan sumber daya alam, transisi energi, pembangunan infrastruktur, dan ketahanan sumber daya menjadi sejumlah faktor yang menopang sektor tersebut.

Baca Juga

Pada Agustus 2026, ETF emas global mencatat arus dana masuk sebesar 18 miliar dolar AS dengan total aset kelolaan mencapai 615 miliar dolar AS. Permintaan dari bank sentral dan investor jangka panjang juga dinilai menopang relevansi emas dalam strategi diversifikasi.

Di tengah kondisi tersebut, PT Bank DBS Indonesia bersama PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen (Batavia) menawarkan Batavia Gold Sharia Equity USD. Reksa dana syariah offshore berdenominasi dolar AS tersebut memberikan eksposur terhadap saham perusahaan global di sektor emas, perak, logam mulia, dan komoditas terkait.

Consumer Banking Director Bank DBS Indonesia Melfrida Gultom mengatakan, saham perusahaan di sektor emas dapat menjadi salah satu pilihan diversifikasi bagi investor dengan profil risiko agresif dan toleransi tinggi terhadap volatilitas.

“Dinamika ekonomi global mendorong investor untuk mempertimbangkan strategi investasi yang terukur. Saham di sektor emas merupakan salah satu aset yang dapat dipertimbangkan dalam diversifikasi portofolio investor dengan profil risiko yang agresif dan bertoleransi tinggi dalam menghadapi volatilitas,” kata Melfrida, Rabu (30/9/2026).

Batavia Gold Sharia Equity USD memiliki portofolio sekitar 56 perusahaan global. Pemilihan saham dilakukan berdasarkan sejumlah aspek fundamental, antara lain kualitas manajemen, kondisi keuangan perusahaan, tren pertumbuhan, dan pengelolaan risiko.

Instrumen tersebut tidak membuat investor berinvestasi langsung pada emas fisik, melainkan memberikan eksposur terhadap saham perusahaan yang bergerak di sektor emas dan komoditas. Produk ini ditujukan untuk investasi jangka menengah hingga panjang dengan pembelian awal minimum 10 ribu dolar AS melalui Bank DBS Indonesia.

Presiden Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen Lilis Setiadi mengatakan, dinamika pasar global membuat investor perlu melihat peluang dari berbagai kelas aset dan wilayah.

“Batavia Gold Sharia Equity USD memberikan kesempatan bagi investor untuk mengenal lebih jauh potensi sektor emas dan komoditas global melalui saham perusahaan terkait, dengan denominasi dolar AS,” kata Lilis.

Eksposur portofolio mencakup perusahaan di sejumlah subsektor, mulai dari emas, perak, dan logam mulia hingga tembaga dan pertambangan. DBS CIO menilai tembaga dan aluminium memiliki potensi kenaikan dalam jangka panjang, sementara komoditas secara umum dapat berperan dalam diversifikasi dan perlindungan terhadap inflasi.

Investor dapat mengakses Batavia Gold Sharia Equity USD melalui aplikasi DBS digibank. Bank DBS Indonesia bertindak sebagai salah satu agen penjual, sedangkan Batavia menjadi manajer investasi yang mengelola produk tersebut.

Kinerja investasi tetap dipengaruhi pergerakan harga emas, kondisi pasar saham, perkembangan ekonomi global, serta faktor lain yang memengaruhi perusahaan dalam portofolio. Karena itu, karakteristik dan risiko produk tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan investasi masing-masing investor.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi