Selasa 14 Jul 2026 13:03 WIB

Cadangan Emas Capai 3.600 Ton Belum Dioptimalkan, Indef: Peluang Besar Bagi Bank Bullion Syariah

Bisnis bullion di BSI tumbuh hingga 78,6 persen.

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: A.Syalaby Ichsan
Batangan emas (Ilustrasi).
Foto: EPA/ALI HAIDER
Batangan emas (Ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Besarnya cadangan emas Indonesia dinilai belum diikuti dengan optimalisasi pemanfaatan emas sebagai instrumen investasi dan intermediasi keuangan. Kepala Center for Sharia Economic Development (CSED) di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Prof Nur Hidayah menilai paradoks tersebut menjadi peluang besar bagi pengembangan Bank Emas untuk dapat memperkuat ekosistem keuangan syariah sekaligus mendorong monetisasi aset masyarakat.

Ia menerangkan, ada transformasi perbankan syariah melalui inovasi produk berbasis nilai. Bisnis bullion (Bank Emas) BSI mencapai Rp 22,9 triliun pada 2025 dan tumbuh 78,6 persen, memperkuat pendapatan berbasis fee

Baca Juga

"Hanya saja, ironisnya Indonesia merupakan produsen emas besar, tetapi pemanfaatan emas masyarakat masih rendah sehingga ruang monetisasi sangat besar," kata Prof. Nur di forum Catatan Tengah Tahun Ekonomi Syariah Indonesia 2026, Selasa (14/7/2026)

Nur menerangkan, layanan bullion dapat meningkatkan intermediasi berbasis aset riil sekaligus memperluas ekosistem keuangan syariah, tumbuh sekitar 78,6 persen. Khusus untuk bullion, ia mengungkapkan, ada paradoks di Indonesia karena potensi besar belum tergarap.

photo
Karyawan melayani nasabah yang ingin membeli emas di Gedung BSI Tower, Jakarta, Rabu (3/6/2026). BSI dan Antam berkolaborasi memperkuat peran bullion banking yang mengkreasikan Pop Up Booth BSI & Antam di BSI Tower, Jakarta, pada 2–5 Juni 2026. Sinergi ini bertujuan memberikan kemudahan bagi nasabah untuk membeli emas Antam fisik secara langsung. Sebagai syarat utama pembelian emas fisik pada ajang eksklusif ini, nasabah wajib memiliki rekening BSI Emas yang diakses melalui aplikasi Byond by BSI. - (Edwin Putranto/Republika)

"Indonesia peringkat ke-4 dunia cadangan emas (3.600 ton) dan peringkat ke-10 produksi emas terbesar (100 ton/ tahun), namun konsumsi emas per kapita kita cuma 0,18 gram, kalah dari Vietnam 0,59 gram dan Thailand 0,54 gram yang bukan produsen emas," ujar Prof. Nur.

Selain itu, Nur mengatakan, ada ironi bahwa Indonesia sebagai produsen emas, tapi jadi importir emas batangan. Impor emas batangan RI terbesar justru dari Hong Kong (30,0 persen) dan Singapura (13,1 persen), mereka adalah dua negara yang sama sekali tidak punya tambang emas.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi