Jumat 22 May 2026 12:51 WIB

Daya Beli Hewan Kurban Melemah, IDEAS: Masyarakat Pilih Kambing yang Lebih Murah

Potensi ekonomi kurban nasional pada 2026 ditaksir capai Rp26,89 triliun.

Panitia memotong daging hewan kurban yang telah disembelih di Rumah Potong Hewan (RPH) Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (1/7/2023). Pada tahun 2023 ini masjid Istiqlal menyembelih 43 ekor sapi dan 8 ekor kambing jumlah itu meningkat hampir 50 persen di banding tahun 2022 lalu. Sedangkan untuk pendistribusian daging kurban tidak dilakukan secara langsung, namun dilakukan melalui perwailan Masjid, Mushola, Yayasan atau Lembaga yang telah mengajukan permohonan berupa proposal.
Foto: Republika/Prayogi
Panitia memotong daging hewan kurban yang telah disembelih di Rumah Potong Hewan (RPH) Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (1/7/2023). Pada tahun 2023 ini masjid Istiqlal menyembelih 43 ekor sapi dan 8 ekor kambing jumlah itu meningkat hampir 50 persen di banding tahun 2022 lalu. Sedangkan untuk pendistribusian daging kurban tidak dilakukan secara langsung, namun dilakukan melalui perwailan Masjid, Mushola, Yayasan atau Lembaga yang telah mengajukan permohonan berupa proposal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga riset Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) memperkirakan potensi ekonomi kurban nasional pada 2026 mencapai Rp26,89 triliun. Nilai tersebut berasal dari sekitar 1,90 juta rumah tangga pekurban dengan estimasi total hewan kurban sebanyak 1,59 juta ekor.

Berdasarkan proyeksi IDEAS, jumlah hewan kurban tersebut terdiri atas 493,18 ribu ekor sapi dan 1,09 juta ekor kambing/domba. Dari total itu, potensi distribusi daging kurban diperkirakan mencapai 99,29 ribu ton.

Baca Juga

Peneliti IDEAS, Tira Mutiara, mengatakan estimasi tersebut dihitung menggunakan pendekatan jumlah penduduk Muslim dengan tingkat pengeluaran di atas lima kali garis kemiskinan kabupaten/kota sebagai proksi kelompok masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi untuk berkurban.

“Simulasi juga mempertimbangkan preferensi jenis dan bobot hewan kurban, mulai dari sapi utuh hingga skema patungan 1/7 sapi serta kambing dan domba dengan berbagai kategori bobot,” ujar Tira dalam keterangannya, dikutip Jumat (22/05/2026).

Meski nilainya masih besar, proyeksi ekonomi kurban 2026 menunjukkan pelemahan dibandingkan 2025 yang mencapai Rp27,10 triliun. Penurunan diperkirakan terjadi akibat berkurangnya jumlah rumah tangga pekurban serta menurunnya preferensi masyarakat terhadap hewan berbobot besar.

IDEAS mencatat jumlah sapi kurban diperkirakan turun sekitar 10,17 ribu ekor dan kambing/domba turun sekitar 3,43 ribu ekor dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut turut berdampak pada potensi distribusi daging kurban yang menurun sekitar 1,85 ribu ton.

Menurut Tira, perubahan pola tersebut menunjukkan adanya penyesuaian perilaku konsumsi masyarakat di tengah tekanan ekonomi domestik.

“Masyarakat tetap berupaya mempertahankan ibadah kurban, tetapi cenderung memilih hewan dengan harga yang lebih terjangkau. Ini terlihat dari meningkatnya permintaan kambing dan domba dengan bobot 40 kilogram dan 20 kilogram,” katanya.

Ia menilai pergeseran tersebut menjadi sinyal awal bahwa daya beli masyarakat mulai mengalami tekanan akibat kenaikan harga pangan, biaya hidup, serta harga ternak dalam beberapa tahun terakhir.

Di sisi lain, IDEAS menilai ibadah kurban tetap memiliki fungsi sosial yang penting karena dapat memperluas akses konsumsi protein hewani bagi masyarakat miskin dan rentan.

photo
Perbedaan spesifik penurunan potensi kurban 2025 dan 2026. - (IDEAS)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement