REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BTPN Syariah 2026 menyetujui seluruh mata acara. Salah satunya, penetapan Mulya Effendi Siregar menjadi komisaris utama menggantikan Kemal Azis Stamboel serta Sendiaty Sondy sebagai komisaris.
Kemal Azis Stamboel telah menyelesaikan masa tugasnya sebagai komisaris utama perusahaan. Dengan demikian, susunan dewan Komisaris BTPN Syariah setelah RUPST menjadi :
Dewan Komisaris:
Komisaris Utama/Independen : Mulya Effendi Siregar
Komisaris Independen : Dewie Pelitawati
Komisaris : Ongki Wanadjati Dana
Komisaris : Sendiaty Sondy
Sementara itu, tidak terdapat perubahan susunan Dewan Direksi dan Dewan Pengawas Syariah perseroan, komposisinya sebagai berikut :
Dewan Direksi
Direktur Utama : Hadi Wibowo
Direktur Kepatuhan : Arief Ismail
Direktur : Fachmy Achmad
Direktur: Dwiyono Bayu Winantio
Direktur : Dewi Nuzulianti
Dewan Pengawas Syariah
Ketua Dewan Pengawas Syariah : H Ikhwan Abidin, MA
Anggota DPS : H Muhamad Faiz, MA dan H Cecep Maskanul Hakim, M.Ec
Manajemen BTPN Syariah menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang setinggi-tingginya atas kontribusi dan dedikasi Kemal Azis Stamboel selama menjabat sebagai komisaris utama perseroan.
Melalui kepemimpinan, arahan strategis, serta pengawasan yang kuat, Kemal telah berperan penting dalam memperkuat komitmen BTPN Syariah mendorong akses keuangan yang inklusif bagi masyarakat prasejahtera produktif di Indonesia.
Seiring dengan hal tersebut, BTPN Syariah juga menyambut kehadiran Sendiaty Sondy sebagai komisaris perseroan.
Arief Ismail, Direktur Kepatuhan merangkap Corporate Secretary Perusahaan, mengatakan, bergabungnya Sendiaty semakin memperkuat komitmen perseroan dalam penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance).
Berbekal pengalaman panjang dan mendalam di bidang perbankan, khususnya dalam fungsi pengawasan dan manajemen risiko, kehadiran Sendiaty diharapkan dapat mendukung BTPN Syariah memperluas akses layanan keuangan yang inklusif bagi masyarakat.
‘’Inklusi di berbagai pelosok Indonesia yang belum tersentuh layanan perbankan,” ujar Arief dalam keterangan Kamis (16/4/2026).
Saat ini, Sendiaty menjabat Head of Risk Management di PT Bank SMBC Indonesia, yang merupakan bank induk perseroan. Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun berkarier di industri perbankan nasional dan internasional, termasuk dalam lingkup konglomerasi keuangan SMBC Indonesia, Sendiaty punya rekam jejak kuat dalam penguatan sistem pengawasan dan manajemen risiko.
Pengalaman internasionalnya mencakup penugasan di Deutsche Bank Cabang Jakarta, Deutsche Bank AG Cabang London, serta Deutsche Bank AG Asia Pacific Head Office Cabang Singapura, dengan kontribusi signifikan dalam proses due diligence, pengembangan sistem origination credit, serta reformasi kebijakan kredit.
Selain itu, selama berkarier di Bank Danamon pada periode Agustus 2004 hingga Desember 2011, ia memimpin implementasi Central Liability System, yang berperan penting dalam penguatan infrastruktur pengelolaan risiko perusahaan.
Selain keputusan di atas, keputusan penting lain yang dihasilkan dalam RUPST yaitu menyetujui pembagian dividen tunai Rp 85,70 per lembar saham atau setara Rp 660 miliar.
RUPST juga menyetujui laba ditahan Rp 521 miliar. Hal ini sebagai komitmen dan apresiasi terhadap stakeholders, khususnya investor, yang sudah memercayakan Bank BTPN Syariah dalam memberdayakan masyarakat inklusi.
Perseroan juga telah mempublikasikan hasil kinerja 2025 pada bulan Februari lalu, perseroan menunjukan kinerja yang bertumbuh.
Hingga 2025, Bank BTPN Syariah mencatatkan laba bersih Rp 1,2 triliun, tumbuh 13 persen secara tahunan (YoY). Penyaluran pembiayaan mencapai Rp 10,35 triliun. Rasio keuangan Bank tetap kuat dengan Return on Asset (RoA) 7,2 persen dan Capital Adequacy Ratio (CAR) 57,7 persen.