Kamis 16 Apr 2026 17:59 WIB

Ekonomi Syariah Dinilai Belum Menyentuh Rumah Tangga, Ini Penyebabnya

Penguatan ekonomi syariah disebut harus dimulai dari keluarga.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Ahmad Fikri Noor
Pembeli melakukan transaksi pembayaran dengan menggunakan layanan digital QRIS BSI di Layanan Pasar dan Pengusaha UMKM (Lapak) BSI di Fresh Market Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (21/1/2026).
Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
Pembeli melakukan transaksi pembayaran dengan menggunakan layanan digital QRIS BSI di Layanan Pasar dan Pengusaha UMKM (Lapak) BSI di Fresh Market Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (21/1/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengembangan ekonomi syariah di Indonesia dinilai masih belum menyentuh level paling dasar, yakni rumah tangga. Selama ini, pendekatan yang dilakukan lebih banyak bertumpu pada industri keuangan dan kebijakan, sementara literasi di masyarakat belum merata.

Pandangan itu mengemuka dalam diskusi yang digelar Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia bersama Bank Syariah Indonesia di Jakarta, Selasa (14/4/2026). Guru Besar Akuntansi Syariah Universitas Tazkia, Murniati Mukhlisin, mengatakan penguatan ekonomi syariah seharusnya dimulai dari keluarga. Sebab, dari lingkungan inilah pola konsumsi, pengelolaan keuangan, hingga keputusan ekonomi terbentuk.

Baca Juga

“Pendekatan syariah itu tujuannya mengangkat martabat manusia dengan sistem yang berkeadilan. Itu harus dimulai dari keluarga,” ujarnya dalam keterangan yang diterima Republika, Kamis (16/4/2026).

Ia menilai tanpa fondasi yang kuat di tingkat rumah tangga, ekonomi syariah berisiko hanya berkembang sebagai sektor industri tanpa dampak luas bagi masyarakat.

Gagasan ini dinilai sejalan dengan pemikiran Sumitro Djojohadikusumo yang menekankan pentingnya kemandirian ekonomi berbasis masyarakat. Dalam konteks saat ini, konsep tersebut dapat diterapkan melalui ekonomi syariah yang inklusif dan berorientasi pada pemerataan.

Selain itu, para ekonom juga menyoroti perlunya kolaborasi lintas sektor untuk memperluas literasi keuangan syariah. Keterlibatan akademisi, pelaku usaha, pemerintah, hingga komunitas dinilai penting agar pemahaman masyarakat tidak berhenti di level teori.

Di sisi lain, industri perbankan syariah terus menunjukkan pertumbuhan. Wakil Direktur Utama Bank Syariah Indonesia, Bob Tyasika Ananta, menyebut pertumbuhan tersebut harus diiringi dengan manfaat sosial yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Dalam beberapa tahun terakhir, aset bank syariah terbesar di Indonesia itu terus meningkat sejak merger pada 2021 hingga melampaui Rp 450 triliun pada 2025.

Meski demikian, tantangan utama tetap pada pemerataan. Tanpa penguatan literasi di tingkat keluarga, ekonomi syariah dikhawatirkan hanya dinikmati sebagian kalangan dan belum sepenuhnya menjadi solusi bagi ketahanan ekonomi masyarakat luas.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement