Selasa 10 Mar 2026 11:26 WIB

Bijak Mengelola THR agar Keuangan Tetap Stabil Setelah Lebaran

Mengatur THR dengan strategi sederhana dapat membantu menjaga stabilitas keuangan.

Pegawai menghitung uang tunai di Cash Pooling Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (13/4/2023). Bank Indonesia (BI) menyiapkan uang tunai sebesar Rp 195 triliun untuk kebutuhan masyarakat selama Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini, jumlah tersebut meningkat 8 persen. BI optimistis peredaran uang tunai mencapai 95 persen saat Ramadhan dan Lebaran 2023 seiring puncak peredaran mendekati keberangkatan pemudik yang bersamaan dengan cairnya Tunjangan Hari Raya (THR).
Foto: Republika/Prayogi
Pegawai menghitung uang tunai di Cash Pooling Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (13/4/2023). Bank Indonesia (BI) menyiapkan uang tunai sebesar Rp 195 triliun untuk kebutuhan masyarakat selama Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini, jumlah tersebut meningkat 8 persen. BI optimistis peredaran uang tunai mencapai 95 persen saat Ramadhan dan Lebaran 2023 seiring puncak peredaran mendekati keberangkatan pemudik yang bersamaan dengan cairnya Tunjangan Hari Raya (THR).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Setiap menjelang Lebaran, suasana rasanya berbeda. Ada semangat baru, rumah mulai dibersihkan, daftar belanja disusun, grup keluarga makin ramai, dan tentu saja notifikasi Tunjangan Hari Raya (THR) yang ditunggu-tunggu. THR sering terasa seperti hadiah kecil setelah setahun bekerja keras.

Wajar jika rasanya ingin langsung merayakan dengan belanja berbagai keperluan. Namun, di tengah perayaan itu ada satu hal yang sering terlupakan, yakni setelah Lebaran usai, hidup tetap berjalan seperti biasa.

Baca Juga

Mengelola THR sebenarnya bukan soal berhemat atau menahan diri. Hal ini lebih tentang menjaga keseimbangan. Lebaran memang momen spesial, sehingga tidak ada yang salah dengan membeli baju baru, menyiapkan hidangan favorit keluarga, atau pulang kampung dengan nyaman.

Mengalokasikan sebagian THR untuk belanja Lebaran itu penting karena momen ini datang hanya setahun sekali. Namun, ketika semuanya terasa perlu untuk dibelanjakan, kita perlu jeda sejenak dan bertanya: apakah ini kebutuhan atau sekadar keinginan sesaat?

Gaya hidup modern sering membuat kita mudah terpengaruh. Media sosial penuh dengan inspirasi hampers cantik, pakaian seragam keluarga, dekorasi rumah estetik, hingga rekomendasi mudik nyaman.

Tanpa sadar, standar perayaan menjadi terasa lebih tinggi. Padahal, esensi Lebaran bukan pada seberapa mewah tampilannya, melainkan pada kehangatan kebersamaan. Mengatur porsi belanja dengan sadar membantu kita tetap menikmati tren tanpa harus membayar dengan stres finansial setelahnya.

Vivin Arbianti Gautama, Chief Customer Marketing Officer Prudential Syariah mengatakan THR sebaiknya kita maknai sebagai rezeki yang dititipkan sehingga perlu dikelola dengan tujuan yang jelas. Setidaknya ada empat hal yang bisa menjadi prioritas: ibadah seperti zakat dan berbagi, kebutuhan Lebaran, kebutuhan masa depan melalui tabungan atau investasi, serta proteksi keluarga.

Perencanaan keuangan bukan hanya soal mengumpulkan uang, tetapi juga melindungi apa yang sudah dikumpulkan. Jika pencari nafkah tiba-tiba tidak dapat bekerja, tabungan bisa cepat terkuras. Karena itu, mengalokasikan sebagian THR untuk perlindungan keluarga adalah bentuk tanggung jawab dan ikhtiar kita untuk menjaga dari risiko.

"Lebaran bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang memastikan keluarga tetap aman dan tenang setelah perayaan berlalu," ujarnya melalui keterangan, Selasa (10/3/2026).

photo
Tips mengelola THR agar tak cepat habis. - (Tim infografis)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement