REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Minat masyarakat terhadap investasi emas terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Hal itu terlihat dari pertumbuhan layanan bank emas atau bullion bank yang mulai dikembangkan di Indonesia.
PT Bank Syariah Indonesia (BSI) mencatat hingga setahun setelah layanan bullion diluncurkan pada Februari 2025, total emas kelolaan perseroan telah mencapai 22,5 ton. Layanan tersebut merupakan bagian dari program pemerintah untuk memperkuat pengelolaan emas nasional.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan layanan bullion menjadi langkah penting dalam memperluas pemanfaatan emas di sektor keuangan.
“Bullion bank menjadi salah satu tonggak bagi BSI dalam memperkuat ekosistem ekonomi syariah. Kami ingin menjadikan emas tidak hanya sebagai instrumen lindung nilai, tetapi juga bagian dari sistem keuangan yang lebih produktif dan inklusif,” ujar Anggoro dalam keterangan yang dikutip Ahad (8/3/2026).
Program bullion bank mulai berjalan setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan izin kegiatan usaha kepada BSI dan Pegadaian pada 2025. Inisiatif tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah mendorong pemanfaatan emas sebagai salah satu instrumen investasi masyarakat.
Seiring berkembangnya layanan tersebut, jumlah nasabah yang memanfaatkan layanan emas juga meningkat. BSI mencatat komposisi nasabah emas dari kalangan generasi Z naik dari 24 persen menjadi 32 persen.
Secara keseluruhan, jumlah nasabah BSI pada 2025 bertambah lebih dari dua juta sehingga melampaui 23 juta nasabah. Pertumbuhan nasabah baru tersebut sebagian berasal dari layanan bullion bank.