Kamis 05 Mar 2026 12:41 WIB

Banda Aceh, Saat Syariat Islam jadi Motor Pemberdayaan

Syariat Islam sama sekali tak jadi halangan kemajuan Banda Aceh.

Rep: M. Nursyamsyi/ Red: Fitriyan Zamzami
Wali Kota Aceh Illiza Illiza Saaduddin Djamal saat membuka Peukan Raya Ramadan (PRR) 1447 H di eks lahan Pasar Aceh Shopping Center, Jumat, 27 Februari 2026.
Foto: Dok Pemkot Banda Aceh
Wali Kota Aceh Illiza Illiza Saaduddin Djamal saat membuka Peukan Raya Ramadan (PRR) 1447 H di eks lahan Pasar Aceh Shopping Center, Jumat, 27 Februari 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDA ACEH -- Pada Ramadhan tahun ini, ada kemeriahan tersendiri di kawasan Pasar Aceh, Banda Aceh. Ribuan warga memenuhi lokasi tersebut, menyambangi Peukan Raya Ramadhan 1447 Hijriah. Ratusan pegiat usaha kecil dan menengah ikut serta dalam helatan yang berlangsung mulai 27 Februari hingga 13 Maret itu.

"Tahun ini kita menargetkan 10.000 pengunjung per hari, dengan proyeksi perputaran uang di atas Rp2 miliar," kata Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal di Banda Aceh, Jumat (27/2/2026).

Illiza mengatakan kegiatan ini sengaja dilaksanakan di pusat kota yang terintegrasi langsung dengan pasar Aceh dan Masjid Raya Baiturrahman. Ini untuk memancing ramainya warga yang berkunjung serta bertransaksi pada Peukan Raya Ramadhan tersebut.

Sebanyak 120 tenant UMKM sektor kuliner Ramadhan, dan produk kreatif dihadirkan. Berbagai aktivasi yang mendorong transaksi langsung masyarakat, dan terhadap usaha yang berpartisipasi tidak dipungut biaya apapun alias gratis.

"Target kita jelas, bukan sekadar ramai, tetapi benar-benar terjadi transaksi. Bukan sekadar acara seremonial, melainkan penguatan usaha dan peningkatan pendapatan masyarakat," ujarnya.

Peukan Raya Ramadhan kali ini menghadirkan tiga zona utama yakni peukan raseuki (pasar rezeki) yang menyajikan ragam makanan untuk berbuka puasa. Kemudian, peukan khanduri (pasar kenduri) kegiatan berbuka bersama dengan takjil yang akan dibagikan secara gratis kepada pengunjung dengan tradisi teumok (makan bersama). Lalu, peukan silaturahmi, dimeriahkan berbagai pertunjukan dan kegiatan interaktif masyarakat selama Ramadhan.

photo
Seorang panitia mengaduk bubur kanji rumbi untuk dibagikan kepada pengunjung pada Festival Peukan Raya Ramadhan 1447 Hijriah di Banda Aceh, Aceh, Jumat (27/2/2026). - (ANTARA FOTO/Akramul Muslim)
 

Yang dilakukan Pemkot Banda Aceh ini, kata Illiza, adalah bagian dari ikhtiar bersama dalam menggerakkan ekonomi kerakyatan. Apalagi, berdasarkan data terbaru, tingkat kemiskinan di Kota Banda Aceh kini berada pada angka 5,45 persen, turun dari sebelumnya 6,95 persen.

"Artinya, sekitar 4.000 saudara kita telah berhasil keluar dari garis kemiskinan," katanya.

Penurunan ini menunjukkan bahwa kebijakan penguatan UMKM, stabilisasi harga, perluasan akses pembiayaan, serta kolaborasi dengan berbagai pihak mulai memberikan dampak nyata. 

Tetapi tidak boleh berpuas diri, karena masih banyak masyarakat yang perlu didampingi dan berdayakan. Karena itu, Peukan Raya Ramadhan 1447 H ini bukan hanya agenda ekonomi, tetapi bagian dari strategi pengentasan kemiskinan berbasis pemberdayaan.

"Kita ingin pertumbuhan ekonomi Banda Aceh bukan hanya tinggi secara angka, tetapi juga berkualitas dan inklusif, dirasakan oleh pedagang kecil, pelaku usaha rumahan, hingga generasi muda," demikian IIliza Sa'aduddin Djamal.

"Melalui dua kegiatan Ramadhan ini, kita berharap pasar Aceh semakin ramai, UMKM semakin kuat, dan ekonomi Banda Aceh tumbuh secara inklusif dan berkelanjutan," demikian IIliza Sa'aduddin Djamal.

photo
Perajin membuat kain tenun dengan menggunakan mesin tradisional di tempat produksi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Ija Kroeng, Banda Aceh. - (ANTARA/Irwansyah Putra)

Di ujung barat Indonesia, Banda Aceh memang terus meneguhkan identitasnya sebagai kota yang memadukan pembangunan modern dengan nilai-nilai Islam. Di bawah kepemimpinan Illiza Sa'aduddin Djamal, pemerintah kota berupaya memperkuat fondasi ekonomi syariah sekaligus mendorong pengembangan wisata halal sebagai motor pertumbuhan ekonomi daerah.

Pendekatan ini bukan sekadar slogan. Pemerintah kota menempatkan konsep “Kota Madani” sebagai arah pembangunan yang mengintegrasikan tata kelola pemerintahan, aktivitas ekonomi, serta kehidupan sosial masyarakat dengan prinsip syariat.

Banda Aceh memanfaatkan status Aceh sebagai satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan syariat Islam secara formal untuk memperkuat sektor ekonomi halal. Pemerintah kota mendorong pelaku usaha, terutama sektor kuliner dan UMKM, untuk mengantongi sertifikasi halal.

Langkah ini tidak hanya bertujuan memastikan kepatuhan syariat, tetapi juga meningkatkan kepercayaan wisatawan dan konsumen. UMKM menjadi salah satu tulang punggung ekonomi kota. 

Data pemerintah daerah menunjukkan ribuan pelaku usaha mikro di Banda Aceh bergerak di bidang kuliner, kerajinan, serta ekonomi kreatif berbasis budaya lokal. Banyak di antaranya didorong untuk bertransformasi menuju model bisnis syariah, baik dari sisi produk, transaksi, maupun manajemen usaha.

Industri halal RI dalam angka 

Penguatan ekonomi halal juga sejalan dengan tren global. Laporan industri halal dunia memperkirakan nilai ekonomi halal global mencapai triliunan dolar AS per tahun, dengan sektor makanan halal menjadi kontributor terbesar. Peluang inilah yang ingin dimanfaatkan Banda Aceh untuk memperluas pasar produk lokal.

Selain ekonomi syariah, sektor yang mendapat perhatian besar adalah pariwisata. Banda Aceh berupaya memposisikan diri sebagai salah satu destinasi wisata halal di Indonesia.

Pada 2015, kota ini bahkan pernah dicanangkan sebagai destinasi wisata Islami dunia, sebuah langkah strategis untuk memperkenalkan Banda Aceh ke pasar wisata Muslim global.

Keunggulan wisata Banda Aceh terletak pada kombinasi sejarah, religi, dan budaya. Salah satu ikon utamanya adalah Masjid Raya Baiturrahman, masjid bersejarah yang menjadi simbol keteguhan masyarakat Aceh sejak masa kolonial hingga masa rekonstruksi pasca bencana.

Selain itu, wisatawan juga banyak mengunjungi Museum Tsunami Aceh yang dibangun untuk mengenang tragedi Tsunami Samudra Hindia 2004. Tempat ini menjadi salah satu destinasi edukasi sekaligus refleksi kemanusiaan yang menarik ribuan pengunjung setiap tahun.

Uang dan Iman

Data pemerintah kota pada masa awal pengembangan wisata Islami menunjukkan jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Banda Aceh mencapai sekitar 12 ribu orang per tahun, di luar wisatawan domestik yang jumlahnya jauh lebih besar. Angka tersebut terus meningkat seiring membaiknya infrastruktur pariwisata dan promosi destinasi.

Bagi pemerintah kota, penerapan syariat Islam tidak dipandang sebagai hambatan bagi sektor pariwisata dan ekonomi. Sebaliknya, nilai-nilai tersebut justru menjadi keunikan yang membedakan Banda Aceh dari destinasi lain di Indonesia.

Konsep wisata halal menekankan pada penyediaan fasilitas yang ramah bagi wisatawan Muslim, seperti makanan halal, kemudahan akses ibadah, serta lingkungan yang sesuai dengan nilai-nilai Islami. Pendekatan ini dinilai sejalan dengan tren wisata global yang semakin memperhatikan aspek etika, kenyamanan, dan keberlanjutan.

Di sisi lain, promosi budaya Aceh—mulai dari kuliner khas, seni tari, hingga tradisi lokal—juga terus digencarkan untuk memperkaya pengalaman wisatawan.

Upaya memperkuat ekonomi syariah dan wisata halal merupakan bagian dari strategi jangka panjang pembangunan Banda Aceh. Dengan potensi sejarah, budaya, dan religiusitas yang kuat, kota ini memiliki modal sosial yang besar untuk berkembang sebagai pusat ekonomi halal di kawasan barat Indonesia.

Ke depan, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian budaya, serta penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat. Jika strategi ini berjalan konsisten, Banda Aceh berpeluang tidak hanya dikenal sebagai kota sejarah dan religius, tetapi juga sebagai contoh bagaimana ekonomi modern dapat tumbuh selaras dengan prinsip syariah.

Potensi Wisata

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI) Aceh Muhammad Imam Fuadi mengatakan pasar halal tourism dan muslim-friendly di Indonesia telah memasuki fase pasar global. Imam menyampaikan peningkatan layanan tambahan (extended services) dapat menarik wisatawan muslim baik lokal maupun internasional ke Aceh dan Banda Aceh secara khusus.

"Industri pariwisata dan pemerintah dapat terus bersinergi dan berkolaborasi dalam memajukan wisata halal," ujar Imam saat dihubungi Republika di Jakarta, Senin (9/3/2026).

Imam menyebut Aceh memiliki potensi besar dalam mengembangkan wisata halal. Imam mengatakan Aceh juga berhasil meraih peringkat kedua sebagai Destinasi Pariwisata Ramah Muslim (Top Muslim-Friendly Tourism Destinastion) dalam Ajang Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) Award 2023 bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI). Pada 2018 dan 2019, Aceh juga menempati peringkat II dalam ajang IMYI. 

"Ini merupakan sebagai capaian bersama dalam memajukan industri pariwisata Aceh berbasis halal," ucap Imam. 

photo
Peserta menata rempah-rempah untuk bumbu masakan pada Aceh Culinary Festival (festival kuliner Aceh) 2023 di Banda Aceh, Aceh, Jumat (14/7/2023). - (Antara/Irwansyah Putra)

Imam menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas capaian ini dalam upaya pengembangan pariwisata halal yang ramah wisatawan muslim yang berkelanjutan di Aceh. Dia menilai keberhasilan Aceh meraih peringkat kedua sebagai Destinasi Pariwisata Ramah Muslim akan memperkuat positioning Aceh sebagai destinasi wisata halal yang layak dikunjungi wisatawan.

"Ini juga menjadi penyemangat untuk tampil lebih percaya diri dan bersaing dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya," lanjut Imam. 

Imam menilai pariwisata Aceh harus harus menggunakan standar global standar. Dia berharap pelaku industri pariwisata Aceh terus bekerja keras lagi untuk bisa meraih peringkat pertama dalam ajang kompetisi Destinasi Pariwisata Ramah Muslin yang akan datang. 

"Keberhasilan ini adalah keberhasilan bersama dan perlu dipertahankan untuk tampil lebih baik," ucap Imam.

Imam mengapresiasi seluruh pelaku industri perhotelan, pelaku pariwisata, pelaku ekonomi kreatif, dan seluruh stakeholder yang telah terlibat mendukung dan memajukan pariwisata di Aceh. Dia mendorong kampanye masih dalam mempromosikan Aceh sebagai destinasi wisata yang ramah, aman, nyaman dan menawan.

"Mendapatkan penghargaan ini diharapkan akan mampu menarik minat wisatawan berkunjung ke Aceh sehingga akan tercapai target kunjungan 2,5 juta wisatawan," kata Imam.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement