Kamis 22 Jan 2026 14:56 WIB

Mendorong Industri Halal: Indonesia Siap Pimpin D-8 Menuju Ekonomi Berkelanjutan

Saat ini kuota sertifikasi halal mencapai satu juta per tahun dan pada 2026.

Pramusaji mengantarkan makanan kepada pelanggan di Kedai Kopitiam, Lumajang, Jawa Timur, Ahad (19/10/2025). Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) mempermudah sertifikasi halal bagi warung makan kecil melalui Program Sertifikasi Halal Gratis (Sehati) untuk mendorong pengusaha dalam percepatan kewajiban sertifikasi halal bagi seluruh produk makanan dan minuman pada tahun 2026.
Foto: ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya
Pramusaji mengantarkan makanan kepada pelanggan di Kedai Kopitiam, Lumajang, Jawa Timur, Ahad (19/10/2025). Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) mempermudah sertifikasi halal bagi warung makan kecil melalui Program Sertifikasi Halal Gratis (Sehati) untuk mendorong pengusaha dalam percepatan kewajiban sertifikasi halal bagi seluruh produk makanan dan minuman pada tahun 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Agama (Kemenag) mendorong pengembangan industri halal nasional sebagai bagian dari penguatan peran Indonesia sebagai Ketua D-8 (Developing Eight) pada periode 2026-2027. D-8 merupakan forum kerja sama delapan negara berkembang berpenduduk mayoritas Muslim yang beranggotakan Indonesia, Malaysia, Iran, Mesir, Nigeria, Pakistan, Bangladesh, dan Turki.

“Dalam keketuaan D-8, Indonesia memfokuskan kerja sama pada dua isu utama, yaitu ekonomi halal dan ekonomi biru,” Direktur Jaminan Produk Halal (JPH) Kemenag M. Fuad Nasar di Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Baca Juga

Pernyataan tersebut disampaikan Fuad saat menjadi pembicara kunci pada Simposium Internasional Halal yang digelar Menara Syariah bekerja sama dengan ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization) Malaysia, KNEKS (Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah), dan IAEI (Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia).

Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, lanjut Fuad, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan industri halal di kawasan dan global.  Namun, menurut Fuad, potensi industri halal nasional belum sepenuhnya teraktualisasi sehingga membutuhkan penguatan ekosistem dan peningkatan kesadaran di seluruh lapisan masyarakat.

Ia menyebut halal tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan terhadap syariat, tetapi juga telah berkembang menjadi tren global yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Prinsip halal menjamin aspek kesehatan, kebersihan, gizi, dan keberlanjutan lingkungan.

“Halal itu pasti sehat, pasti bersih, pasti bergizi, dan pasti ramah lingkungan,” ujarnya.

Dalam konteks penguatan industri halal nasional, pemerintah menunjukkan keberpihakan melalui fasilitasi sertifikasi halal bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Melalui Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), sertifikasi halal skema self declare diberikan tanpa biaya dan disubsidi negara melalui APBN.

“Saat ini kuota sertifikasi halal mencapai satu juta per tahun dan pada 2026 ditingkatkan menjadi 1,35 juta sertifikat,” kata Fuad.

Disamping itu, kata dia, sertifikasi halal bagi pelaku usaha besar tetap dilaksanakan melalui skema reguler. Pengembangan industri halal diharapkan mampu meningkatkan serapan tenaga kerja demi menekan angka pengangguran dan kemiskinan. Menurutnya, aspek tersebut menjadi salah satu indikator penting kemajuan industri halal.

“Serapan tenaga kerja merupakan barometer penting kemajuan industri halal. Ini sejalan dengan AstaCita Presiden dalam pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan,” kata Fuad Nasar.

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement