Rabu 17 Dec 2025 13:25 WIB

Kadin Fasilitasi Minat Belarusia Akses Pasar Halal Indonesia

Kadin menilai pasar halal nasional memiliki daya tarik kuat.

Rep: Frederikus Dominggus Bata/ Red: Ahmad Fikri Noor
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie.
Foto: Antara/Mentari Dwi Gayati
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memfasilitasi minat Belarusia untuk mengakses pasar halal di Tanah Air. Isu tersebut dibahas dalam pertemuan bilateral antara Ketua Umum Kadin Anindya Novyan Bakrie dan Deputi Perdana Menteri Belarusia Viktor Karankevich di Menara Kadin, Jakarta, Selasa (16/12/2025).

Kadin menilai pasar halal nasional memiliki daya tarik kuat bagi mitra luar negeri seiring besarnya populasi Muslim dan posisi Indonesia sebagai salah satu pusat konsumsi produk halal dunia. Minat Belarusia tersebut didiskusikan bersamaan dengan penguatan kerja sama ekonomi dan perdagangan kedua negara.

Baca Juga

“Kami juga membicarakan bagaimana Belarusia dapat memanfaatkan pasar halal yang sangat besar di Indonesia,” ujar Anindya, dikutip Rabu (17/12/2025).

Agenda pertemuan turut mencakup pembahasan sektor strategis lain yang saling melengkapi. Kadin mendorong kolaborasi industri pupuk, mengingat Belarusia dikenal sebagai salah satu pemasok potas utama ke Indonesia, sekaligus membuka peluang penguatan rantai pasok pertanian.

Kerja sama kemudian diarahkan pada peningkatan produktivitas sektor pertanian melalui pemanfaatan teknologi. Fokus pembahasan meliputi mekanisasi, pengembangan mesin, serta peralatan pertanian untuk menopang efisiensi produksi pangan.

“Kami membahas potensi pengembangan industri pupuk, mengingat Belarusia merupakan salah satu pemasok potas yang besar ke Indonesia,” kata Anindya.

Kolaborasi industri juga mencakup peluang industrialisasi alat berat. Kedua pihak menjajaki pengembangan bus, traktor, hingga alat berat berkapasitas besar mencapai 450 ton untuk mendukung kebutuhan industri dan infrastruktur.

Dalam perspektif yang lebih luas, Kadin memandang Belarusia memiliki posisi strategis sebagai pintu masuk Indonesia ke kawasan Eurasia. Langkah ini sejalan dengan agenda penandatanganan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) yang dijadwalkan berlangsung pada pekan berikutnya.

“Ini merupakan kesempatan emas. Kami berharap hubungan business to business antara pelaku usaha kedua negara dapat mengikuti hubungan baik yang telah terjalin antara pemerintah dengan pemerintah,” ujar Anindya.

Nilai perdagangan Indonesia dan Belarusia pada 2025 tercatat sekitar 400 juta dolar AS. Kadin meyakini implementasi CEPA akan memperluas akses pasar kawasan Eurasia dan memperkuat peran Indonesia dalam ekosistem perdagangan global.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement