Rabu 21 Jun 2023 22:47 WIB

Kata BSI Soal Open Finance

Open finance baik untuk UMKM, tapi tetap perlu peningkatan agar naik kelas.

Warga membeli cabai merah saat Operasi Pasar Murah Keliling Masuk Desa di Banda Aceh, Aceh, Selasa (23/5/2023). Operasi pasar murah keliling yang melibatkan Dinas Koperasi UMKM dan Pertamina tersebut menjual sejumlah komoditas pangan dan gas elpiji bersubsidi 3 kilogram seiring mulai naiknya harga sebagian bahan pokok di pasar tradisional.
Foto: ANTARA FOTO/Ampelsa
Warga membeli cabai merah saat Operasi Pasar Murah Keliling Masuk Desa di Banda Aceh, Aceh, Selasa (23/5/2023). Operasi pasar murah keliling yang melibatkan Dinas Koperasi UMKM dan Pertamina tersebut menjual sejumlah komoditas pangan dan gas elpiji bersubsidi 3 kilogram seiring mulai naiknya harga sebagian bahan pokok di pasar tradisional.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Senior Executive Vice President (SEVP) Digital Banking PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Saut Parulian Saragih mengatakan open finance merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia, lantaran memungkinkan lebih banyak UMKM mengakses pinjaman.

Open finance adalah praktik berbagi data yang memungkinkan pengguna untuk berbagi data keuangan mereka dengan pihak ketiga melalui application programming interface (API). Praktik ini juga memungkinkan bank untuk melakukan digitalisasi layanan yang terjamin keamanannya.

"Open finance itu tak terelakkan dan merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan inklusi keuangan, yang sekarang menjadi salah satu tantangan UMKM," kata Saut dalam acara Open Finance Summit 2023 di Jakarta, Rabu (21/6/2023).

Namun demikian, ia menuturkan mendorong praktik open finance untuk menjangkau UMKM tidaklah cukup. Pasalnya, kapabilitas UMKM juga perlu ditingkatkan agar UMKM bisa naik kelas.

Kapabilitas UMKM yang perlu ditingkatkan yakni seperti kemampuan manajemen keuangan, pemasaran, pengepakan, hingga membuat Perseroan Terbatas (PT) dan Commanditaire Vennootschap (CV).

Menurut Saut, selama ini berbagai kemampuan standar yang harus dimiliki UMKM tersebut masih sangat kurang, meski seluruh kemampuan tersebut seharusnya dimiliki oleh UMKM.

"Kalau data dari open finance sudah ada, infrastruktur sudah ada tetapi kapabilitas UMKM tidak ada, kesenjangannya masih tetap ada untuk UMKM bisa naik kelas," tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jaringan Operasi dan Penjualan PT Pegadaian (Persero) Eka Pebriansyah berharap open finance bisa menjangkau UMKM lebih jauh lagi hingga ke wilayah pelosok.

"Kami ingin akses open finance ini bukan hanya di kota besar, tetapi seluruh Indonesia karena banyak pelaku UMKM yang belum tersentuh," ujar Eka.

Dengan demikian, dirinya mengungkapkan kemitraan antar pelaku industri jasa keuangan sangat diperlukan dalam mendukung praktik open finance bisa berkontribusi terhadap kemajuan UMKM.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement