Jumat 17 Jan 2020 06:00 WIB

Beragam Makna dan Hakikat Musibah Menurut Alquran

Musibah mempunyai sejumlah makna sebagaimana ditegaskan dalam Alquran.

Musibah mempunyai sejumlah makna sebagaimana ditegaskan dalam Alquran.Ilustrasi beribadah menghadapi musibah.
Foto: Antara//Adeng Bustomi
Musibah mempunyai sejumlah makna sebagaimana ditegaskan dalam Alquran.Ilustrasi beribadah menghadapi musibah.

REPUBLIKA.CO.ID, Assalaamu 'alaikum wr wb 

Bapak Ustaz yang saya hormati, apakah musibah yang menimpa seseorang dapat berarti azab bagi yang bersangkutan atau dapat merupakan penghapus dosa? Demikian, atas jawaban Ustaz saya ucapkan terima kasih.

Baca Juga

Wassalam 

Hayatun Nufus Cibening, Bogor

 

Musibah adalah sesuatu yang tidak disenangi oleh jiwa. Padamnya lampu saat dibutuhkan penerangan adalah musibah, demikian Imam ar-Razy, dalam tafsirnya mengutip satu riwayat yang dinisbahkan kepada Rasulullah SAW. 

Selanjutnya dengan merujuk kepada ayat-ayat Alquran ditemukan aneka musibah yang dapat menimpa manusia pada diri, keluarga, harta jiwa, dan agamanya. 

Yang paling berat dari sekian musibah adalah yang menimpa keberagamaan seseorang. "Semua musibah ringan asal tidak menimpa agama." Demikian ungkapan populer dalam literatur agama. 

Musibah-musibah yang dialamai boleh jadi merupakan:

1) Ujian bagi keimanan dan kesabaran seseorang. Ini merupakan keniscayaan dalam hidup (QS al-Ankabut: 2-3), boleh jadi juga 

2) Sebagai cara yang ditempuh Allah SWT guna pengampunan dosa (QS Ali Imran 140-141). Nabi SAW bersabda: Tidak ditimpa seseorang duri dalam perjalanannya kecuali dihapus Allah dosanya 

3) Sebagai pembalasan atas kesalahan (QS al-Ankabut 40),

4) Sebagai obat atas penyakit yang diderita (QS al-Mukminun 75-76)  

Selanjutnya Alquran juga mengisyaratkan bahwa musibah terjadi akibat memperturutkan nafsu (QS asy-Syura 30 dan Thaha 81), atau kebodohan manusia. Karena itu Allah memerintahkan manusia untuk selalu belajar, dan Nabi SAW mengingatkan lewat sabdanya: ''Jadilah seorang cendekiawan, atau penuntut ilmu, atau pendengar ilmu yang baik, atau pencipta ilmu, dan jangan menjadi yang kelima (orang bodoh), karena jika demikian engkau akan celaka.''

Akhirnya perlu digarisbawahi bahwa ada musibah yang merupakan kebaikan bagi manusia. Pemilik perahu yang dibocorkan Nabi Musa adalah orang-orang miskin, pembocoran tersebut padahal tidak menyenangkan para pemilik itu musibah bagi mereka.

Namun, pada hakikatnya tidak demikian: Adapun perahu itu (yang saya bocorkan) maka ia adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut dan aku bertujuan memberi aib (membocorkan sehingga nampak tidak sempurna) karena di hadapan mereka ada raja (penguasa) yang mengambil perahu-perahu (yang baik) secara paksa (QS al-Kahfi: 79). Mudah-mudahan musibah yang dihadapi bangsa kita adalah jenis musibah ini. Demikian Wallahu a'lam

 

 

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement