Selasa 06 Nov 2018 07:15 WIB

Rekam Medis Elektronik: Big Data Untuk Semua Orang

Big Data kesehatan bermanfaat mengetahui kondisi medis dan mengambil tindakan klinis.

Seorang anak menunggu antrean saat berobat di puskesmas Ayam di kampung Bayiwpinam, Distrik Akat, Kabupaten Asmat, Papua.(Ilustrasi)
Foto: Antara/M Agung Rajasa
Seorang anak menunggu antrean saat berobat di puskesmas Ayam di kampung Bayiwpinam, Distrik Akat, Kabupaten Asmat, Papua.(Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dunia saat ini sedang berada pada era industri 4.0 (I4.0) dimana pertukaran dan penyimpanan informasi menjadi ciri utamanya. Era I4.0 mendapat sebutan Big Data, karena informasi yang tersedia bersifat 3V yaitu memiliki Volume (jumlah yang besar), Velocity (kecepatan arus informasi yang tinggi), dan Variety (jenis data beragam). Dalam hal ini dunia medispun tidak terlepas dari kondisi ini karena besarnya aliran pasien dari hari ke hari, dengan segala variasi permasalahan yang memerlukan penangan unik.

“Di era revolusi industri 4.0, hanya institusi, perusahaan dan tenaga kesehatan yang inovatif dan responsif terhadap perubahan perkembangan teknologilah yang akan bertahan hidup dan tetap eksis di tengah masyarakat”, atau dengan kata lain, dibutuhkan perkembangan kemampuan pengolahan data dan manajemen pasien berdasarkan data yang ada,'' kata Ahli kesehatan masyarakat, Prof Dr Ali Ghufron Mukti, MSC,kepada wartawan, di Jakarta, Senin, (5/11),

Senada dengan itu, Salah satu Guru Besar termuda di FKUI dan pelopor inovasi kedokteran reproduksi di era disrupsi, Prof DR dr Budi Wiweko, SpOG (K), MPH menganggap electronic health record (perekaman data ksehatan) juga merupakan salah satu faktor penting untuk mendukung peran “Big Data” di era kedokteran presisi sekarang ini. “Yang terekam dalam electronic health record itu bukan saja data klinik melainkan juga data genomik,” ujarnya.

Terkait hal itu, PT Integritas Indonesia Sejahtera (INTEGRINDOS) menyiapkan solusi guna menghadapi tantangan ini dengan pengembangan suatu platform yang disebut I-THS-1908. Ini adalah platform rekam medis elektronik karya anak bangsa Indonesia berstandar industri terkini yang menggunakan Fast Healthcare Infrastructure Resource (FHIR). Platform ini tidak hanya berperan sebagai tempat penyimpanan dokumen dan pencatatan perjalanan kondisi medis individu, namun juga memiliki kemampuan membantu pengambilan keputusan klinis.

Solusi ini dimungkinkan atas dasar berbagai sumber data yang diolah sedemikian rupa guna memberikan manfaat yang diharapkan. Fitur ini diperkenalkan sebagai machine learning dan data streaming. Keputusan akhir akan diambil oleh ahli dengan dukungan data real time. Fitur-fitur ini sudah terdapat di platform I-THS-1908.

I-THS-1908 sudah melalui simulasi pengolahan 86.124.645 data set, mamp mengolah 200.009 data per detik. Uji coba menggunakan SyntheaTM dengan menganalisis data 1.460 data pasien sintesis dengan volume data 286.022.898 byte, I-THS-1908 berhasil memprosesnya dalam kecepatan 31,5 detik atau 46,3 file per detik. Hasil uji coba ini telah dipresentasikan dalam acara ilmiah 3rd ICE on IMERI di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada tanggal 5 November 2018.

“Tenaga kesehatan dituntut untuk dapat membuat keputusan berdasarkan kondisi yang ada, yang disebut precision medicine dimana pemberian obat ditentukan kondisi pasien terkini,” ungkap Ahmad Hidayat, CEO dan pendiri INTEGRINDOS. “Akan dibutuhkan suatu sarana untuk tenaga kesehatan dalam membuat keputusan. Oleh karena itu Big Data electronic medical record ini (I-THS-1908) merupakan suau solusi bagi tenaga kesehatan untuk memenuhi kebutuhan tersebut,” ujarnya.

Tidak hanya membantu dalam menarik keputusan klinis, I-THS-1908 juga dapat membantu proses riset. Fitur visualisasi realtime-nya dapat membantu mempersingkat waktu riset, terutama studi pendahuluan maupun data dasar. Visualisasi ini juga dapat membantu semua pihak dalam menentukan prioritas pengembangan obat dan teknologi medis dengan melihat pola penggunaan obat dan kebutuhan pasien. Hal serupa dapat dimanfaatkan pemerintah sebagai sarana utnuk kepentingan epidemiologis untuk membantu pembuatan kebijakan di bidang kesehatan

“Tidak hanya maching learning, platform ini juga dilengkapi visualisasi yang mana dibutuhkan dalam pengambilan keputusan di tingkat komunitas,” tambah Ahmad Hidayat. “Kami berharap platform ini dapat membantu riset dan inovasi dalam bidang kesehatan, juga memberi terobosan dalam pencegahan dan promosi masalah kesehatan.”

Menurutnya, walaupun platform ini dapat memberikan kekhawatiran terhadap substitusi tenaga ahli—dalam hal ini dokter—menjadi otomatisasi I-THS-1908, hal tersebut masih cukup jauh. Hal ini mengingat ekosistem interkonektivitas layanan kesehatan (Healthcare Ecosystem Interconnectivity) tidak hanya mencakup ‘Analytics and Research’, tetapi juga ‘Outstanding Care’ dan ‘Training & Education’ di mana hal tersebut mencakup hubungan interpersonal manusia.

“Jadi bukan teknologi yang berpotensi mensubstitusi sumber daya manusia dengan alat, tetapi teknologi yang membantu pencapaian, dalam hal ini di bidang kesehatan, yang lebih baik,” ujar Ahmad Hidayat.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement