Senin 18 Aug 2014 19:01 WIB

Cara Mengatur Penghasilan Tidak Tetap

Penghasilan tidak tetap perlu dikelola dengan baik (ilustrasi)
Foto: reesolarpanelsbristol.org.uk
Penghasilan tidak tetap perlu dikelola dengan baik (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Salam kenal, saya ibu dari dua orang anak yang masih balita. Saya dan suami punya penghasilan yang tidak tetap. Suami buka bengkel motor dan saya buka salon di rumah. Pendapatan kami tidak bisa diprediksikan tiap harinya berapa. Kalau ada yang service atau ke salon baru punya duit, sedangkan kebutuhan kami banyak. Untuk beli susu, pampers, bayar listrik, kontrak rumah, belum lagi kebutuhan belanja sehari-hari. 

Saya bingung mengatur keuangannya dan membuat daftar keuangan dengan hasil yang pas-pasan aja. Bagaimana pak solusinya, Terima Kasih.

Jawaban WF 19:

Salam kenal juga Bu :-)

Pada kebanyakan orang, pendapatan tidak tetap adalah masalah, tetapi pada sebagian orang juga, pendapatan tidak tetap adalah berkah dan solusi. Kenapa saya katakan solusi, karena selalu ada kemungkinan yang terbaik untuk pendapatan Anda. 

Bagi yang pendapatannya tetap atau pasti, dalam hal ini bagi umumnya karyawan, maka kenaikan antara 6-7 persen persen per tahun adalah sebuah kelaziman, sementara inflasi riilnya antara 10-12 persen per tahun. Jadi antara gaji dan inflasi, selalu tidak pernah bisa seimbang, apalagi naik.

Di sisi lain, bagi yang tidak memiliki pendapatan tetap maka, kemungkinan untuk mengejar laju inflasi ada peluang, walau hal tersebut kembali kepada si empunya profesi. Untuk keluarga Anda, hanya tinggal mensikapinya dengan kepala dingin saja yang memungkinkan Anda bisa bebas dari masalah Anda.

Ada 3 langkah praktis yang bisa Anda lakukan:

 

1. Pastikan pengeluaran Anda setiap bulannya

Secara umum ada 3 bentuk pengeluaran, yakni pengeluaran primer (sandang, pangan, papan), sekunder (listrik transportasi, pulsa handphone), tersier (hiburan, wisata, makan di luar dan lain-lain).

Jika penghasilan tidak tetap, maka pengeluaran bisa bersifat tetap.  Coba Anda cek kembali, apa saja yang menjadi pengeluaran Anda sekeluarga, dari yang terkecil hingga terbesar.  Urutkan dari yang bersifat WAJIB, BUTUH dan INGIN.  Dari sekian banyak pengeluaran tersebut, ambil yang WAJIB saja.

Jika ternyata pengeluaran yang memang Anda butuhkan selama sebulan Rp 2,5 juta sementara pengeluaran yang sangat wajib Rp 2,3 juta maka Anda harus memilih untuk mendahulukan yang wajib, walau standar hidup Anda agak menurun. Setelah Anda ketemu angkanya, hiduplah semurah mungkin dan disiplin untuk hidup hanya dengan Rp 2,3 juta saja per bulan.

2. Hitung ulang pendapatan rata-rata bulanan Anda berdua

Karena pendapatan Anda berdua bersifat harian, maka konsekuensinya Anda harus menghitung atau mencatat tiap harinya, berapa uang yang masuk.  Misalkan per hari berkisar antara Rp 50 ribu-Rp 200 ribu, berarti sebenarnya rata-rata pendapatan per bulan Anda Rp 1,5 juta-Rp 6 juta. Ambil saja rata-rata dalam sebulan Anda mendapatkan Rp 2 juta, maka pendapatan Anda setahun menjadi Rp 24 juta.

Dari pendapatan Rp 2 juta dalam sebulan, maka dengan asumsi biaya hidup Anda sekeluarga Rp 2,3 juta maka Anda defisit sebesar Rp 300 ribu per bulan. Inilah yang harus Anda cari pemecahannya tiap bulan.

Apakah dengan melipatgandakan pemasukan dari usaha salon dan bengkel, ataukah mencari penghasilan lain. Misalnya untuk usaha salon, Anda bisa menjual jus kepada pengunjung sebagai cara untuk memikat pembeli lain, dan juga bagi yang menunggu antrian di salon Anda. Begitupun dengan bengkel motor suami Anda. Mindset Anda berdua, haruslah pemasukan bulanan Anda harus lebih besar dari pengeluaran bulanan Anda.  

 

3. Buat amplop terpisah dan disiplinlah!

Karena Anda berdua adalah entrepreneur atau pengusaha skala kecil yang Insya Allah akan menjadi besar, maka antara kebutuhan bulanan keluarga dan pengeluaran dari bisnis harus terpisah, termasuk pemasukannya. Jadi urusan pribadi, masuknya ke amplop atau rekening pribadi, begitupun urusan bisnis, masuknya ke amplop atau rekening bisnis.

Lantas muncul pertanyaan, bagaimana dengan keberlangsungan pengeluaran yang bersifat pasti dan pemasukan/pendapatan yang tidak pasti? Sebagai antisipasinya, Anda sekeluarga harus punya dana darurat yang Anda cicil setiap bulannya.

Jadi jika Anda punya pengeluaran sebesar Rp 2,3 juta per bulan, Anda harus menyisihkan sebesar 2-3 bulan dari pengeluaran bulanan Anda. Misalnya bulan Januari Anda mendapatkan penghasilan Rp 3 juta, maka Anda surplus sebesar Rp 700 ribu, dimana Rp 500 ribu bisa Anda sisihkan untuk dana cadangan, yang besarnya minimal 2-3x pengeluaran bulanan Anda. Jadi target Anda untuk punya dana darurat sebesar Rp 4,6 juta–Rp 6,9 juta. Jadi jika pun di bulan berikutnya, misal bulan april Anda berdua tidak mendapatkan pemasukan dari bisnis Anda, maka dana darurat bisa Anda gunakan sebagai pengeluaran bulanan Anda yang Rp 2,3 juta.

Adapun dana darurat yang ideal bagi Anda, suami dan 2 orang anak adalah 12x pengeluaran bulanan Anda, jadi Rp 27,6 juta. Artinya satu langkah dari sekian banyak masalah mendasar Anda, sudah terpecahkan, berikutnya selain meningkatkan penghasilan Anda berdua, yang tidak kalah pentingnya Anda harus bisa berfikir untuk proteksi dan Investasi buat masa depan Anda dan keluarga.

Selamat mengatur keuangan Anda!

 

Kolom ini diasuh oleh WealthFlow 19 Technology Inc.,Motivation, Financial & Business Advisory (Lembaga Motivasi dan Perencana Keuangan Independen berbasis Sosial-Spiritual Komunitas). Pertanyaan kirim ke email : [email protected]  SMS 0815 1999 4916.

twitter.com/h4r1soulputra

www.p3kcheckup.com

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement