Rabu 21 May 2014 09:34 WIB

Orang Tua Kerap Linglung

Lansia yang kehilangan pasangannya perlu diberi hobi untuk mengurangi rasa ketergantungannya dari pasangan yang sudah mendahului.
Foto: Rakhmawaty La'lang/Republika
Lansia yang kehilangan pasangannya perlu diberi hobi untuk mengurangi rasa ketergantungannya dari pasangan yang sudah mendahului.

REPUBLIKA.CO.ID, Dok, ayah saya sering sekali berbicara sendiri. Bila ditanya seolah dia sedang berbicara dengan almarhum ibu. Tetapi kemudian beliau tampak sadar kembali. Apa yang sebaiknya dilakukan?

Tita (28 tahun)

Jawaban :

Dear Tita, dalam kehidupan, manusia pasti menghadapi berbagai macam kesulitan hidup. Ada kesulitan yang sudah dapat diperkirakan sebelumnya, misalnya memasuki masa pensiun. Ada kesulitan yang munculnya secara tiba-tiba, misalnya meninggalnya orang yang kita cintai. Dan kesulitan yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

 

Bagi seorang suami, kehilangan istri yang dicintai merupakan sebuah syok (pukulan) mental yang sangat berat. Terutama bagi pasangan yang hubungannya sangat dekat dan saling bergantung. Perginya pasangan hidup dirasakan sebagai hilangnya sebagian dari jiwanya sehingga dirinya kehilangan semangat hidup.

Tentu, kondisi terpuruk ini, tidak boleh dibiarkan berkelanjutan. Proses beradaptasi dalam menerima kondisi ini pada setiap individu tidaklah sama. Pada umumnya dalam waktu 4-6 bulan mereka sudah mulai bisa melewati masa berduka.

Dalam kasus ayah Anda yang sering merasa berbicara dengan almarhum istrinya, menunjukkan bahwa rasa sepi yang melanda membuat beliau sering berkhayal. Menghadapi situasi seperti ini ia perlu dukungan dari keluarga dekat yaitu anak-anaknya. Dengan adanya dukungan maka rasa percaya diri akan meningkat. Motivasi untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi juga akan meningkat.

Ada beberapa cara yang bisa Anda pilih sesuai dengan situasi dan kondisi untuk membantu menyembuhkan rasa kehilangan yang dialami ayah Anda, antara lain :

- Aturlah waktu untuk mengunjunginya. Ini bisa dilakukan bergantian dengan saudara Anda. Ajaklah mengobrol dengan santai. Jika mengeluh, tunjukkan rasa empati Anda.

- Agar perhatiannya tidak hanya terfokus pada rasa kehilangan, sarankan mempelajari keterampilan atau hobi baru. Misalnya, berkebun, main musik, memelihara hewan, dan lain-lain.

- Ajaklah sekali-kali keluar rumah atau rekreasi keluarga sehingga pikiran menjadi segar.

- Bila Ayah gemar menulis, sarankan untuk menuangkan perasaannya dalam sebuah buku diary. Diharapkan dengan menulis perasaan akan menjadi lebih tenang.

- Menyarankan untuk memperdalam pengetahuan agama dengan mengikuti pengajian, kebaktian, dan lain-lain.

- Ajaklah Ayah berolah raga ringan olah raga teratur tidak hanya menyegarkan fisik, tetapi juga menyegarkan mental.

Bagaimanapun, apapun yang terjadi, kehidupan harus terus berjalan. Semoga bermanfaat. Salam bahagia.

Dian Permatasari, M.Psi

Psikolog Klinis Dewasa di RS Meilia Cibubur

 

 

Kolom Dokter Kita diasuh oleh RS.Meilia Cibubur

Kirim pertanyaan Anda ke email : [email protected]

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Terkait
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement