Jumat 16 May 2014 09:23 WIB

Manajemen Keuangan PNS Bergaji Minim

Gaji PNS yang minim membuat mereka harus pandai bersiasat demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Foto: Prayogi
Gaji PNS yang minim membuat mereka harus pandai bersiasat demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

REPUBLIKA.CO.ID, Saya hanya ingin mengajukan pertanyaan tentang penghasilan saya yang sudah sangat minim.

Saya seorang PNS yang saat ini masih bergolongan rendah, II/A. Tetapi beberapa bulan lagi saya akan mengikuti Ujian Penyesuaian Ijazah S-1 yang tentunya akan meningkatkan golongan dan gaji saya, tetapi tidak seberapa.

Persoalannya, saat ini saya memiliki penghasilan tetap berupa gaji hanya tinggal Rp 800 ribu dan akan bertambah menjadi Rp 1 juta lebih setelah kenaikan pangkat atau penyesuaian Ijazah nantinya.

Tentu saja jumlah itu masih sangat minim jika dibandingkan dengan saya yang saat ini tidak memiliki penghasilan selain gaji PNS, memiliki seorang istri yang masih kuliah semester akhir dan sedang hamil yang juga sama sekali tidak punya penghasilan.

Kami juga memiliki seorang bayi yang masih berusia 2 tahun. Belum memiliki rumah sendiri alias masih menumpang di rumah orang tua saya.

Bagaimana mengatasi problema keuangan saya tersebut?

Atas komentar dan jawabannya, sebelumnya kepada saudara motivator saya ucapkan terima kasih banyak.

Alfitrah

Jawaban WF 19

Senang mendapat pertanyaan dari Anda, Pak Alfitrah. Saya ucapakan selamat atas semangat belajar Anda dan istri yang gigih demi mewujudkan kehidupan keuangan keluarga yang lebih baik.

Membaca masalah keuangan keluarga Anda, sepertinya tidak ada jalan keluar, tetapi yakinilah bahwasanya bersama-sama kesulitan selalu ada kemudahan untuk jalan keluar.

Orang yang cerdas adalah orang yang paham bahwa mereka punya masalah dan selalu berpikir akan jalan keluarnya. Ketimbang Anda berpikir masalah keuangan Anda dengan penghasilan yang minim, mengapa tidak berpikir untuk mendapatkan penghasilan besar dengan mencari beberapa alternatif penghasilan lain di luar dari gaji Anda sebagai PNS?

Di mulai dari mana?

Dari potensi MODAL SOSIAL yang keluarga Anda punyai.

Jika hari ini Anda masih ikut orang tua, jadikan ini sebagai modal awal Anda.  Artinya untuk tempat tinggal, Anda tidak perlu membayar uang sewa, tetapi harus tetap Anda anggarkan buat calon rumah Anda nantinya.

Anggap saja ‘biaya sewa’ dari menumpang di rumah orang tua Anda sebagai cicilan yang nantinya bisa Anda gunakan untuk calon rumah Anda.

Selanjutnya, Anda anggarkan dari penghasilan Anda yang minim tadi untuk dana darurat.  Kenapa? Walaupun Anda seorang PNS, ketidakpastian akan masa depan dalam waktu pendek akan tetap terjadi.

Entah karena anak sakit yang membutuhkan biaya mendadak, kebutuhan istri yang mau melahirkan, ada saudara yang lebih membutuhkan dana dan lain-lain.

Intinya, dana darurat ini diperlukan ketika hal-hal di luar keinginan kita terjadi.  Besarannya untuk keluarga Anda adalah 9 kali pengeluaran bulanan keluarga Anda dan akan meningkat menjadi 12 kali ketika anak kedua lahir.

Lantas solusi apa yang bisa Anda lakukan dengan penghasilan yang sangat minim?

1.    Hitung kembali pengeluaran bulanan Anda

Coba Anda cek kembali keuangan keluarga Anda dengan menghitung detail apa saja pengeluaran bulanan yang terjadi.  Catat berapa pemasukan Anda, lalu dari pemasukan tersebut, apa saja yang keluar, hatta uang parkir, beli permen dan sebagainya.

Dari data keuangan masa lalu inilah akan ketahuan, berapa sebenarnya pengeluaran bulanan Anda.

Misalkan pemasukan Rp 1 juta dan pengeluaran bulan lalu Rp 1,2 juta berarti Anda mengalami defisit keuangan. Inilah hal dasar yang perlu Anda ketahui. Berarti  masalah Anda, bagaimana menutupi Rp 200 ribu dari pengeluaran Anda.

  

2.    Buatlah anggaran belanja bulanan

Secara teoritis, pengeluaran bulanan berkisar di angka 40-70 persen dari penghasilan bulanan.  Banyak dari kita yang menganggarkan belanja bulanannya melebihi angka 90 persen.  Otomatis untuk pos tabungan dan investasi bisa dikatakan tidak ada.

Kunci dasarnya adalah membuat anggaran belanja bulanan tidak melebihi angka 70 persen, itu artinya Anda harus melakukan DIET KEUANGAN ketika sudah mulai melebihi angka 70 persen.

Cara paling ampuh untuk diet keuangan adalah DISIPLIN terhadap uang Anda.  Dimulai dari prioritas kewajiban dan kebutuhan ketimbang keinginan.  Setelah itu diturunkan pos belanjanya, lalu dijarangkan hingga dihilangkan.

Mungkin awalnya tidak enak dan Anda merasa kurang nyaman dengan diet keuangan ini, tetapi yakinilah hal ini bisa menolong keluarga Anda untuk jangka panjang.

Selalu disiplin untuk mematuhi anggaran belanja yang sudah ditetapkan.

3.    Batasi cicilan utang bulanan

Jika hari ini Anda punya kewajiban (utang) mulai lakukan tindakan untuk memperkecil angka utang Anda. Tidak menambah utang baru, jika pun ada hanya untuk utang yang bersifat produktif alias menghasilkan.

Idealnya, porsi utang tidak boleh melebihi angka 30 persen, syukur-syukur Anda tidak punya utang lagi.

Ketika Anda tidak punya utang atau utang Anda semakin menipis, berarti pos tersebut bisa tergantikan untuk pos menabung dan investasi buat keluarga Anda.

4.    Cari alternatif penghasilan lain

Ini adalah solusi yang paling jitu untuk siapapun yang memiliki masalah penghasilan yang minim. Jangan berpikir Anda tidak punya waktu, toh waktu Anda di kantor hanya dari pukul 08.00-17.00 selebihnya bebas Anda gunakan plus Sabtu dan Ahad.  Jika Anda berpikir tidak punya keahlian, belajarlah dan ikuti mentor yang sudah sukses sesuai dengan minat (passion) dan bakat  (talent) Anda.

Jika Anda berpikir tidak mungkin, carilah orang-orang yang berhasil yang telah pindah kuadran dari pekerja menjadi wirausaha, atau punya keempat kuadran yakni karyawan, pekerja mandiri, Wirausaha bersistem dan juga sebagai investor.

Perbanyak silaturrahim dan TAKE DOUBLE ACTION! 

Kolom ini diasuh oleh WealthFlow 19 Technology Inc.,Motivation, Financial & Business Advisory (Lembaga Motivasi dan Perencana Keuangan Independen berbasis Sosial-Spiritual Komunitas). Pertanyaan kirim ke email : [email protected]  SMS 0815 1999 4916.

twitter.com/h4r1soulputra

www.p3kcheckup.com

Advertisement
Berita Terkait
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement