Selasa 04 Dec 2012 15:13 WIB

Ingin Cerai, tapi...

Perceraian (ilustrasi)
Foto: kampungtki.com
Perceraian (ilustrasi)

Pertanyaan:

Sedih hati saya, bu, setelah hampir 5 tahun berumah tangga dengan suami kini kami sedang memikirkan untuk berpisah. Saya sungguh tidak tahan dengan kekerasan hati, sikap, perilaku dan bahkan terkadang kekerasan fisik yang saya alami. Bu, bagaimana saya mengubur masa lalu dan menjalani hidup saya kembali, karena selama ini saya bergantung dengan suami? Bagaimana dengan anak-anak kami?

DS, 36 tahun

Jawaban:

Untuk Ibu DS yang baik, janganlah bersedih dan berkeras hati, dalam situasi seberat apapun maka upayakan untuk dapat melunakkan hati kita selalu. Salah satu hal terpenting dalam pembangunan hubungan berkeluarga adalah membentuk jalinan pola hubungan komunikasi yang setara dengan suami. Nah pada posisi itu, kunci utamanya adalah keterbukaan, kejujuran dan kasih sayang.

Dalam kondisi penuh emosi memang keputusan mudah sekali dibuat, namun mengandung berbagai konsekuensi di kemudian hari. Bila mungkin masih dapat dilakukan perbaikan dalam merumuskan kembali pola komunikasi dalam keluarga, maka sebaiknya berbaiklah/rujuk kembali, mengingat anak.

Kalau hanya mengambil keputusan untuk berpisah, itu tentu tidak sesulit bagaimana memelihara/ memupuk/ menyiram hubungan keluarga. Tentu harus dipahami bahwa dalam perkawinan tidak hanya bisa menerima kelebihannya saja, TAPI juga harus bisa menerima kekurangannya.

Perkawinan adalah menyatukan dua kutub yang berbeda. Bukan hanya hubungan Ibu dan suami saja. TAPI juga harus bisa menyatukan dua keluarga besar. Tentu kita tidak menyetujui adanya perilaku atau bahkan tindakan yang menjurus pada perbuatan kekerasan fisik, namun perlu dilakukan evaluasi bersama mengapa kemudian hal tersebut muncul dan mengemuka.

Sesekali ada kalanya perlu mengambil waktu secara berdua dengan pasangan. Memang, di tengah dunia modern kita pasti berhadapan dengan rutinitas dan kejenuhan. Untuk itu, sarana menjalin pola hubungan komunikasi dengan pasangan adalah sebuah langkah untuk mendapatkan kembali gairah kasih dan sayang, mengenang romansa, serta menentukan rancangan masa depan keluarga.

Di samping itu, untuk ibu DS dapat pula mencari aktivitas positif untuk bisa mengalihkan masa lalu yang selalu teringat, mendekatkan diri dalam ibadah ataupun bisa menambah kemampuan serta wawasan. Saran saya, keduanya, yakni Ibu dan suami, HARUS saling introspeksi diri. Saling mengoreksi sikap dan perilaku masing-masing.

Bukan Bapak saja yang HARUS berubah, namun ibu juga harus berubah. Bila memungkinkan ada mediasi, misalkan keluarga yang dituakan bisa menengahi masalah Ibu. Atau berkonsultasi dengan tokoh agama, maupun dapat menguraikan masalah pada tenaga profesional, diharapkan dapat membantu masalah yang Ibu hadapi. Demikian semoga bermanfaat untuk Ibu DS, salam bahagia sekeluarga. (An)

Anastasia, M.Psi,Psi

Psikolog di RS Meilia Cibubur

 

Kolom Dokter Kita diasuh oleh RS.Meilia Cibubur

Kirim pertanyaan Anda ke email : [email protected]

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement